KEN KEN WIRO SABLENG, MULAI AKTING DENGAN HONOR Rp. 10 RIBU (wawancara lawas dengan Ken Ken). Ada dua kejadian baru yang tidak akan pernah dilupakan Ken Sukendro alias Wiro Sableng di daerah Srogohimo Wonogiri. Pertama, musibah tabrakan antar kru dengan bis umum yang hampir mengakibatkan terjadinya baku hantam. Sopir dan kondektur bersembunyi diantara penumpangnya. Pemuda yang akrab di panggil Ken Ken ini, datang lima menit kemudian setelah peristiwa berlangsung. Bersama teman-temannya si Wiro masuk ke bis umum jurusan Ponorogo - Wonogiri itu, mencari sopir dan kondektur yang ngumpet diantara penumpang.
Kedua, disitulah Ken Ken merasakan dirinya benar-benar telah menjadi seorang bintang setelah sekian tahun menerjuni dunia film dan sinetron, nyaris tanpa penggemar. Namun ketika serial Wiro Sableng sukses lewat tayangan RCTI, ribuan remaja Wonogiri menyerbu Ken Ken. Disitu dia menyaksikan penggemar Wiro ada yang sampai pingsan dan histeris. "Saya terharu sekali sampai menitikkan airmata. Akhirnya saya melepaskan baju dan melemparkan ke tengah-tengah massa, " kata Ken Ken yang lahir di Jakarta, 21 Maret 1968 ini.
Satu tahun lebih Ken Ken suting Wiro Sableng. Mata sebelah kanannya hampir buta tertusuk ranting pohon. Jua gigi bagian kiri, patah karena jatuh dari tali sling. "Terpaksa gigi saya diganti dengan gigi palsu. Habis nggak tumbuh-tumbuh. haha.." ujar Ken Ken yang mengidolakan bintang laga Jan Claude Van Damme dan Sharon Stone ini. Kendati demikian, Ken Ken Tidak pernah mengeluh, karena di sinetron inilah katanya dia menemukan jatidiri yang sejati. "Tak ada perjalanan yang tidak menanggung resiko", lanjut Ken Ken.
Pemuda ganteng berkulit sawo matang yagn berpostur tinggi 175 cm dengan berat 77kg, memulai karirnya dari bawah sekali. Jadi figuran film-film eksyen. Tapi Ken Ken tidak pernah putus asa. Dia tegar seperti batu karang. Honornya mulai sepuluh ribu sampai dua puluh lima ribu perak. "Nggak jadi masalah, uang itu saya terima dengan senang hati. Tujuan utama saya main film bukan untuk cari uang sebesar-besarnya, melainkan untuk bisa terlibat suting. Honor gede akan datang dengan sendirinya setelah kita menunjukkan kemampuan. Itu prinsip saya, " kata penggemar film-film laga ini.
Ken Ken sempat kebingungan ketika Herry Topan memberikan waktu hanya satu bulan untuk mempelajari karakter Wiro Sableng seutuhnya, termasuk fisik. Hari-harinya dihabiskan untuk membaca novel Wiro Sableng, menghubungi Bastian Tito, sutradara SA Karim dan Ackyl Anwari sampai Irhamdi, penulis skenario. Dia juga harus menurunkan berat badan sebanyak 10 kg agar lebih ramping. "Tapi saya hanya mampu menurunkan berat badan 8 kilogram saja. Pada awal suting, saya belum bisa sepenuhnya memasukkan roh si Wiro. Saya banyak melakukan kesalahan, " aku ken Ken yang kakak kandung Ayuni Sukarman ini.
Untuk mengenal lebih jauh pribadi ken Ken Berikut petikan hasil wawancara wartawan Majalah Film di lokasi Suting Wiro Sableng di Sukabumi Jawa Barat .
Dengan Sukses sinetron Wiro Sableng, apakah Anda juga sudah merasa berhasil?
"Belum!. Saya masih dalam tahap senang, karena sinetron yang saya bintangi disukai dan diterima masyarakat. untuk kedepan, saya merasa belum ada apa-apanya"
Lantas bagaimana anda menggambarkan keberhasilan itu?
"Harus sukses lahir batin. Secara lahiriah, mencukupi kebutuhan materi, karir lancar, punya istri, anak dan disukai orang banyak. Batiniah, perasaan tenteram, nggak punya musuh dan selalu bisa mendekatkan diri pada Tuhan".
Sekarang Anda identik dengan Wiro di mata masyarakat. Apakah Anda ingin mempertahankan imej itu?
"Ya, hingga serial Wiro Sableng selesai. Nggak mungkin dong saya mempertahankan tokoh Wiro dengan cara tidak main disinetron lain, sementara WIro Sableng itu sendiri sudah rampung penayangannya nanti. Sekarang juga saya masih bisa dan di bebaskan untuk main di tempat lain, asal tidak mengganggu scene saya di Wiro. Untuk itu saya minta peran yang kecil-kecil saja, agar tidak mengganggu jadwal dan masyarakat tetap mengenal saya sebagai Wiro".
Selain populer, keuntungan apalagi yang anda peroleh dalam sinetron Wiro Sableng?
"Saya memperoleh perhatian dari Pak Herry Topan hingga membuat saya merasa senang dan betah, walau harus lama tinggal di desa-desa terpencil, bahkan di hutan. Yang lebih menyenangkan, saya dapat bonus mobil jeep ha..ha..".
Karakter Anda sendiri dalam keseharian, gimana sih?
"Nyantai tapi terus bekerja".
Pandangan Anda sendiri tentang tokoh Wiro?
"Saya suka karena tokoh Wiro adalah seorang pemuda yang enerjik, humoris, pantang menyerah dan selalu berada di jalan Tuhan".
Sifat apa yang kurang anda sukai dari tokoh Wiro?
"Wiro kurang introspeksi diri dan pelupa".
Sebaliknya, sifat apa yang Anda sukai dari Wiro?
"Wiro, suka menggoda wanita".
Berarti Anda juga suka menggoda...?
"Nggak, ha..ha...ha...
Sejak Kapan Anda mengenal tokoh Wiro Sableng?
"Sekitar tahun 1987 lewat karya Bastian Tito. Novel novelnya selalu saya baca, dan nggak nyangka kalau tokoh Wiro itu bakalan saya perankan di sinetron".
Ada kesulitan dalam merefleksikan tokoh Wiro?
"Saya menemukan sosok Wiro yang sesungguhnya justru pada pertengahan cerita. Tahap awal saya mengalami kesulitan yang luar biasa. Saya diberi kesempatan untuk mengenal tokoh Wiro hanya dalam satu bulan. Saya juga harus mengecilkan badan dengan cara menurunkan berat hampir sepuluh kilogram. Dalam satu bulan itu juga saya harus banyak bertanya dan tukar pikiran dengan pak Bastian, Irhamdi, Pak SA Karim dan Pak Ackyl ANwari".
Ada yang mengatakan bahwa Anda termasuk tipe cowok play boy. Benarkah?
"ha..ha... saya demen banget kalau dibilang kayak gitu. Berarti saya disukai wanita. Tapi sebetulnya saya nggak play boy".
Sudah berapa kali anda berpacaran serius?
"Baru dua kali ha.. ha..."
Yang tidak serius?
"Ha...ha... lupa tuh. tapi nggak banyak kok, karena saya juga nggak terlalu sembrono dengan masalah wanita. Saya sadar diri bahwa saya dari kasta yang tidak kaya. Untuk mempermainkan wanita, saya harus banyak mengeluakan uang dan harta. Hal itu nggak mungkin bisa saya lakukan".
Apakah Anda suka terlibat Cinta Lokasi?
"Nggak tuh. Sampai sekarang saya belum pernah terlibat cinta lokasi".
Sebelum jadi Wiro, Anda sudah banyak terlibat main film layar lebar dan sinetron. Tapi Anda hanya sebagai pemain tambahan, bahkan hanya figuran. Saat-saat seperti itu, pernahkah Anda merasa putus asa atau pesimis di dunia akting?
"Saya terjun ke dunia film dengan satu tekad, jadi pemain tanpa beban apapun. Makanya, walau dapat hoor kecil, antara lima belas ribu hingga dua puluh lima ribu perak, saya menerimanya dengan senang hati. Akhirnya saya menemukan jalan di perusahaan Bola Dunia FIlm untuk berlatih sinematografi pada pak Yoseph Ginting, dosen IKJ. Saya bersama Anto Wijaya, berdua diajari oleh Pak Yoseph mengenai drama. Dari situ saya mulai dapat peran yang lumayan, seperti menggantikan Advent Bangun sebagai Rawedeng di Mahkota Majapahit dan menggantikan peran-peran bintang yang sudah terkenal lainnya".
Jika Anda menemui suatu titik jenuh, biasanya apa konpensasi atau pelariannya?
"Mancing atau jalan-jalan aja!"
Anda pernah belajar ilmu bela diri?
"Saya sekarang belajar silat di Setia Hati Teratai sebelumnya pernah ikut latihan Tae KwonDo dan Karate, tapi hanya setengah jalan".
Apakah itu dominan membantu Anda?
"Ha... ha... sama sekali tidak karena jurus-jurus yang saya lakonkan di Wiro jauh berbeda dengan apa yang saya pelajari di ilmu beladiri. Instruktur fightingnya, mas Yitno selalu mencari jurus-jurus aneh yang berbeda dengan gerakan ilmu bela diri yang ada".
Anda pernah berkelahi di luaran?
"Pernah, ketika pulang suting film Walet Merah. Saat itu pukul tiga dini hari, saya dicegat tiga orang laki-laki di lampu merah Senen. Saya bertiga, satu diantaranya wanita, yaitu Anika Hakim (penyandang DAN I Karate Konjugai) bertiga kami melawan mereka yang akhirnya mereka kalah dan lari".
Motivasi apa Anda belajar ilmu bela diri?
"Dulu, saya pengen jadi atlet Karate, ingin ikut di kejuaraan. Tapi ditengah jalan gagal".
Pernahkah Anda bertemu dengan penggemar fanatik Wiro?
"Sering, terutama di kawasan Jawa Tengah. Pernah terjadi di sebuah daerah Wonogiri, ribuan orang menunggu saya di lokasi suting. Gitu saya turun dari mobil, mereka langsung menyerbu, menarik dan memeluk serta menciumi saya, terutama gadis-gadisnya. Saya sempat panik dan kemudian jadi sangat terharu. Saya lantas buka baju dan melemparkannya ke tengah-tengah massa. Itu sangat saya maklumi, karena daerah Wonogiri termasuk daerah yang jauh dari sentuhan artis-artis".
Jika anda diminta sesuatu dari penggemar, kira-kira apa yang akan anda berikan?
"Kalau dalam kadaan terdesak seperti pengalaman saya tadi, saya akan buka baju dan melemparkannya. Tapi kalau ketemunya secara perorangan dan baik-baik, saya akan beri foto-foto, foto bersama dan tanda tangan. Saya kira itu juga yagn sangatmereka harapkan ketimbang benda-benda lainnya".
Bagaimana Tanggapan masyarakat Wonogiri atau sekitar lokasi suting Wiro Sableng mengenai musibah tabrakan mobil kru dengan bis umum yang juga melibatkan Anda?
"Sebenarnya tidak ada apa-apa, karena mereka juga tahu kalau yang salah itu bukan pihak kami, melainkan pihak pengemudi bis umum itu. Bahkan salah seorang kru terpaksa dirawat dirumah sakit. Jadi nggak ada masalah dengan masyarakat setempat. Bahkan mereka menyesalkan kenapa kami pindah lokasi ke daerah Sukabumi.
Ya kenapa harus pindah?
"Masalah itu, tanya saja langsung sama sutradaranya. Tapi menurut pendapat saya, untuk menghindari hal-hal yang kemungkinan bisa saja terjadi, seperti balas dendam dari teman-teman sopir bis umum di Wonogiri, karena saya dengar yang bersangkutan termasuk anggota persatuan sopier di Jawa Tengah yang bisa saja dia merangsang rasa solider teman-temannya untuk mengadakan pengrusakan atau tindakan lainnya. Walau persoalan sudah ditangani Polres, tapi apa salahnya jika kita bersikap lebih hati-hati.
Ketika Anda masuk bis umum untuk membantu mencari sopir dan kenek yang mengumpat diantara penumpang, apa reaksi penumpang?
"Semuanya diam, tidak ada yang bersuara. Saya nggak mau berbuat kasar, karena saya tahu posisi saya sebagai milik masyarakat. Akhirnya saya turun dan mengadukannya ke pihak berwajib".
Sifat Apa yang kurang Anda sukai dari orang lain?
"Iri dan malas, Kalau ketemu orang seperti itu, biasanya saya diam, ngga mau ngomong".
Sebaliknya, sifat yang paling Anda sukai dari orang lain?
"Rajin dan disiplin. Itu saya pelajari dari pak Ackyl sutradara Wiro Sableng".
Dulu Anda bercita-cita sebagai apa sih?
"Jadi penerbang".
Sekarang nggak menyesal jadi pemain film karena gagal jadi penerbang?
"Nggak dong. Bahkan kayaknya lebih enak jadi bintang film. Penerbang itu kan cita-cita kecil saya".
~demikian di kutip dari MF No. 263/229/XII/13-26 Juli 1996

No comments:
Post a Comment