Thursday, July 9, 2026

BELLA ESPERANCE LEE, UNGGULAN FFI SAJA SUDAH SUKUR

 


Ada yang masih ingat aktris satu ini? BELLA ESPERANCE LEE, UNGGULAN FFI SAJA SUDAH SUKUR (berita lawas). Ketika suara salah seorang pembaca pemenang bergema ke seluruh ruangan gedung Sasono Langen Budoyo TMII, dimana berlangsungnya puncak acara FFI 1992 menyebut nama Lydia Kandou sebagai pemenang utama wanita, berhak menggondol Piala Citra dalam film Ramadhan dan Ramona, tanggal 28/11 1992 , salah seorang dari empat rivalnya, Bella Esperance Lee (27) tampak tenang-tenang saja. Wajahnya tak punya ekspresi. Artinya tidak kelihatan sedih, marah, kecewa atau gembira. 

"Benar kan apa yagn saya katakan barusan. Untung saja saya nggak ngomong optimis keluar sebgai pemenang. Kalau sempat itu saya ucapkan, wow.... betapa malunya saya, apalagi bila Anda ekspose di media!" semprot Bella yang duduk disisi kiri Nurul Arifin pada wartawan MF. 

Sejak semula, yaitu sebelum pengumuman FFI 1992 dimulai, Bella memang telah mengemukakan panjang lebar bahwa dia tidak terlalu ngoyo memikirkan Piala Citra. Dia menyadari bahwa sebagai orang baru, masuk sebagai unggulan saja sudah merupakan keberuntungan karirnya yang dimulai sejak 1989 ketika membintangi film Catatan Si Boy III. 

"Wajar kok, saya kalah. Masih ada yang lebih berbobot, lebih matang, yang tentunya lebih pantas menerima Piala Citra. Sedangkan Nurul Arifin dan Paramitha Rusady saja nggak terpilih. Padahal mereka cukup punya keberadaan di bidangnya. Apalagi saya!" Ucap Bella yang malam itu memakai baju warna hitam pekat. 

Kendati demikian, Bella dalam hal ini mengemukakan sangat berterima kasih pada Arifin C Noer yang telah memasangnya sebagai Maryati di film Bibir Mer, hingga ia masuk unggulan. Banyak masukan pelajaran yang diprolehnya dari proses main dan pembuatan film Bibir Mer tersebut. 

"Rasanya memangagak lain main di film Bibir Mer ketimbang film-film sebelumnya. Pak Arifin begitu sangat serius mengarahkan akting saya. Dia nggak segan-segan negor dan memberikan contoh yang sesuai dengan peran saya," ungkap Bella, putri pasangan dari William Lie Hong, dan Marquerite Esperance de Letang yang lahir di Singapura, 6 Agustus 1965 ini. 

"Masih banyak waktu dan kesempatan lain. yang penting saya petik di tahun 1992 ini adalah dengan masuknya saya sebagai unggulan dan film Bibir Mer telah membuka cakrawala karir saya, " lanjut Bella lagi. 

Terlepas pembicaraan karirnya yang cukup hangat itu, sekarang Bella mengaku sibuk mengurusi usaha bisnis barunya, yang terdiri dari bahan-bahan peawatan tubuh, yang katanya khusus didatangkan dari China, Jepang dan Korea. 

"Saya bekerjasama dengan sebuah perusahaan di Jakarta untuk memasarkannya. Yah, cukup laris juga sih. Barang-barang itu banyak peminatnya di Indonesia. Dan hasilnya, lumayanlah untuk tabungan masa tua, he..he... , "ujar cewek dengan tinggi 167 cm yang memulai karirnya sebagai peragawati ini. 

Untuk memasarkan produk luar itu, Bella  kerap keluar daerah dengan mobilnya yang penuh sesak barang-barang kosmetik dan jenis perawatan tubuh lainnya. Bahkan tidak jarang dia menyupir sendiri. Kadang ke Bandung, Semarang, Bali, Padang, Medan dan kota-kota besar lainnya di daerah. 

Nggak takut perampokan?

Siapa sih yang nggak takut. Tapi sampai sekarang saya belum dan hendaknya jangan sampai terjadi deh. Kiat saya hanya hati-hati dan waspada. Artinya punya kepekaan diri. Semua itu memang telah ditanamkan orangtua kepada saya sejak kecil. Makanya saya dalam berusaha nggak pernah ragu-ragu!" papar Bella menutup perbincangan di puncak acara FFI 1992 yang cukup meriah itu. 

NYAI DASIMA, SINETRON UNTUK SAMBUT ULTAH JAKARTA


 NYAI DASIMA, SINETRON UNTUK SAMBUT ULTAH JAKARTA (berita lawas). Nyai Dasima, nama seorang pembantu yang sangat cantik di era awal abad 19. Kisahnya jadi legenda. Bahkan, Ridwan Saidi berani membenarkan bahwa Nyai Dasima memang pernah ada. Itu masalah Nyai Dasima, buku-buku sejarah dan surat-surat kabar terbitan awal abad 19. 

Nyai Dasima berselingkuh dengan majikanny, Edward Williams, hingga melahirkan anak perempuan, Nancy. Muncul seorang pria pribumi, Samiun, menyadarkan Dasima bahwa tinggal seruma dengan laki-laki yang bukan suami resminya tidak baik. Dasima hanya sebagai gundik. Samiun mencoba membangkitkan rasa kebangsaan Dasima untuk menentang Edward Williams. Tapi kemudian  Dasima jadi isteri kedua Samiun. 

Nyai Dasima dibintangi aktor gaek Robby Sugara, Moudy Wilhelmina, Gusti Randa, Dana Christina, Robert Syarief, Cut Keke dan lain-lain. Ali Shahab sutradara merangkap produser sinetron yang bersetting awal abad 19 antara tahun 1813 hingga 1914 ini, mengatakan untuk membangun setting Tjoeroeg dan menghidupkan kembali suasana rumah Edward Williams dan Pierre Bonnet, menghabiskan iasa lebih 400 juta. Dekornya diciptakan berdasarkan data yang di reproduksi kembali. 

Nilai sejarah yang terkandung dalam cerita Nyai Dasima , juga diperkuat dengan adanya berita disalah satu surat kabar terbitan tahun 1914.

Nyai Dasima ditayangkan setiap Sabtu, pukul 1019.30 WIB sebanyak 12 episode, durasi 60 menit. Kata Edward Depari, Nyai Dasima memang dipersiapkan untuk menempati Prime Time. "Itu makanya kami agak sulit menayangkan sinetron ini. Kami menunggu waktu yang tepat. Nah sekarang tepat waktu, karean sinetron Nyai Dasima ini juga kami persiapkan khusus untuk menyambut ulang tahun Jakarta ke 469, ini bentuk partisipasi RCTI, " kata Edward Depari. ~sumber MF No. 263/229/XII/13-26 Juli 1996


Tuesday, July 7, 2026

SALLY MARCELLINA, KINI GAMPANG GELISAH

 


SALLY MARCELLINA, (berita lawas). Kecanggihan "Sally Marcellina dalam melepas helai demi helai busana diuji kembali. Film terbaruna : Dendam Cinta dan Cinta Terlarang, keduanya diproduksi Virgo Putra Film, membuktikan bahwa artis yang sudah populer sejak medio 80an ini masih punya mahkota sebagau ratu artis "esek-esek". Paling tidak ia masih artis paling panas di tahun 1995 ini. Keadaan ini dapat disimpulkan dari empat judul film yang dibintanginya. 

Bejibun artis muda yang ngantri di belakangnya, yang siap mencuri tongkat estafet "Mahkota Bom seks", belum juga sanggup menggantikannya. Ada Inneke Koesherawati dan Febby Lawrence. Tapi Sally tetap pada posisinya. 

Anatomi tubuh artis berdarah Manado-Minang ini sebenarnya tak hebat benar. Mungkin karena ekspresi wajahnya yang sudah mengundang. Ada kombinasi yang unik. Dibalik wajahnya yang lugu, ada keberanian besar untuk tampil buka-bukaan. 

Di lokasi suting Cinta Terlarang, ia tampil meliuk-liukkan tubuhnya membawaka tari sensual dengan kostum yang minim. Puluhan mata tak berkedip melihat tubuhnya yang bak ular lagi menggeliat. 

Kenapa Sally "kambuh" lagi tampil mendesah-desah dan meliuk-liuk, padahal kemarin ingin jadi aktris berkualitas lewat sinetron?.

"Itulah! Sinetronnya sampai sekarang belum juga ditayangkan. Kesal juga dia rupanya ,"jawab seorang kru, berbisik. 

Banyak tawaran main sinetron ditolaknya, sebelum ia menerima tawaran Edo Pesta Sirait sebagai gadis lugu dalam sinetron "Azab dan Sengsara. Bagi saya,main sinetron tidak main-main kalau castingnya pas Mariamin, misalnya itu bisa diterima, "katanya. 

Tapi kini pengorbanan waktunya menguber duit lewat adegan mendesah-desah, dan tampil berekspresi serius di televisi, belum menampakkan hasilnya. Tak jelas stasiun mana yang bakal menayangkannya. ~MF : 235/201/XI/17-30 Juni 1995

BUKAN MAIN, FILM KOMEDI PERSAINGAN DUA PUB


BUKAN MAIN, FILM KOMEDI PERSAINGAN DUA PUB (film lawas). Adalah dua buah pub yang letaknya tepat berseberangan. Yang pertama "White Horse Pun" milik janda kembang Poppy, yang kedua "Black Horse Pub" dipimpin si botak licik Kris. 

Kelicikan-kelicikan Kris membuat pub "White Horse" dilanda kesepian terus menerus. Antaranya, Kris menugaskan anak buahnya menuangkan olie di depan pintu masuk "White Horse". Akibatnya, rombongan tamu jatuh tunggang langgang semua. 

Poppy bertambah kesal karena tiga anak buahnya, Johan, Marcel dan Abdul sama sekali tak bisa diandalkan. Bahkan Johan dan Marcel terus menyibukkan diri dengan main catur daripada bekerja. Satu-satunya tamu yang setia cuma tinggal Pak Harja yang nampaknya memang tak punya pekerjaan lain daripada minum-minum dan ngobrol. 

Abdul yang ditugaskan menyusup ke pun lawan dengan menyamar sebagai sheik dari Kuwait, malah dicekoki minuman keras campur olie oleh Kris, hingga menderita cegukan berat. 

Giliran Poppy sendiri yang menyamar sebagai koboi. Sengaja menuangkan kecoa hidup kedalam gelas minumannya hingga tamu-tamu pub "Black Horse" geger. Otomatis emua tamu merasa jijik dan pindah lagi ke "White Horse".

Di samping kesibukan melayani tamu yang berbondong-bondong, Johan dan Marcel bikin pertaruhan unik. Barangsiapa bisa mendapatkan ciuman Poppy dialah yang menagn. Kecantikan Poppy memang sudah lama membuat Johan gandrung. Sedangkan bagi Marcel sebenarnya sudah ada Olga, cewek genit yang mondok sementara dirumah kontrakannya. 

Poppy yang ceridik tak gampang-gampang termakan bualan Johan. bahkan ialah yang berhasil melucuti baju Johan lalu mengikatnya didalam lift. 

Kris yang penasaran mengundang pawang ular untuk menteror "White Horse" dengan ular-ular. Justru ada juara tinju yang tengah mengamuk-ngamuk mencari pacarnya disini. 

Cerita mencapai punyaknya ketika Poppy berhasil membujuk Abdul untuk membuka rahasia apa sebenarnya yang membuat sikap Johan dan Marcel menjadi aneh. Kini berbalik Poppy menjebak  kedua karyawannya ini lewat sebuah pertemuan di kapal pesiar. Johan dan Marcel bukan saja bisa ditelanjangi, malah punggung mereka pun jadi bulan-bulanan cambuk Poppy. 

Produksi PT Parkit Film dengan trio produser Dhamoo, Gobind dan Raam Punjabi yang tersohor sebagai gudang ide-ide kocak, kembali di sutradarai oleh Yazman Yazid. 

Yazin yang mengawali debut penyutradaraan lewat film anak-anak "Tangan-tangan Mungil", memang belakangan ini di bawah bendera Parkit, hampir selalu menggarap komedi yang rata-rata sukses dalam peredarannya. Lihat saja sejak "Tahu sama Tahu", "Kanan Kiri OK" sampai ke "Lenong Rumpi" yang memecahkan rekor box office film nasional di Jakarta. 

Namun berbeda dengan film-film sebelumnya, kali ini Yazman mantek (memasang) pelawak-pelawak langganan Parkit seperti misalnya Kadir dan Doyok. JUstru para pemain utama terdiri dari bingang-bintang idola. Meriam Bellina sebagai Poppy, Onky Alexander sebagai Johan dan Jeffry Waworuntu sebagai Marcell. 

Tiga pemeran utama tersebut didukung oleh sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi. Nurul Arifin sebagai Olga, Fuad Alkhar sebagai Abdul, Aom Kusman dari grup "De Kabayan" yang juga MC Kuis Siapa Dia di TVRI, berperan sebgai Pak Harja, Robert Syarief sebagai si licik Kris, Pak Tile sebagai Mbah Dukun, serta kejutan dengan ikut bermainnya mantan juara tinju kita, Ellyas Pical, sebagai Elly, petinju pemberang yang paling takut ular. 

Kendati Elly sekarang bukan menjadi juara lagi, namun penampilannya dengan logat Saparua yang khas diharapkan bisa mendatangkan kesegaran dan gelak tawa bagi penonton. ~sumber mf 145/112/Th. VIII, 18 Jan - 31 Jan 1992


YURIKE PRASTICA

 


YURIKE PRASTICA BERPERAN JADI PRAMURIA(berita lawas). Memang di film ini saya berperan sebagai hostes, tapi penggambarannya nggak vulgar. Mas Torro mampu menampilkannya secara halus, "kelit Yurike Prastica, ditengah suting film Surgaku di Pintu Neraka (Surgaku Nerakaku)", tentang penampilannya terbaru untuk film layar lebar dalam garapan sutradara Torro Margens. 

Semenjak geger Pembalasan Ratu Laut Selatan, artis film asal Bandung yang debut karirnya diawali dengan peran-peran berani ini memang seperti mundur dari penampilan syurr. Ia memilih jadi jagoan silat dan beradegan laga, bahkan meloncat ke sinetron yang memang bersih dari adegan buka-bukaan. Belakangan ketika sinetron susah mengangkat namanya, ia tak menolak lagi untuk ke layar perak dalam tema syurr. Antara lain menerima peran sebagai hostess tadi. 

Bagaimana prosesnya menghayati peran seorang wanita pramuria? "Cukup melihat dari jauh dan mencoba menafsirkan sendiri, " kata artis yang tetap bahenol ini.  ~MF : 202/168/TH X, 26 Maret - 8 April 1994

RARA AZIS ,

 


RARA AZIS, FILM PERTAMA PERAWAN LEMBAH WILIS (berita lawas). Ada yang tahu sosok perempuan ini? namanya memang tidak begitu berkibar namun di era 90an ia salah satu artis yang terjun di dunia film maupun layar kaca. 

Lulus SMA di Sulawesi Selatan tahun 1990, Rara Azis merantau ke Jakarta guna mewujudkan impiannya jadi artis yang sudah bergelora sejak pertama kali nonton film di bioskop daerah setempat. "Judulnya Saya Lupa, yang jelas saya langsung berangan-angan, betapa enak dan bangganya kalau bisa main film. DI SMP dan SMA saya ikutan kesenian termasuk aktif mengisi acara di TVRI Sulsel. Tapi karir saya nggak berkembang, karenanya selepas SMA Saya memutuskan pindah ke Jakarta, "kata Rara Azis. 

Sampai di Jakarta, apakah semua berjalan mulus seperti yang  dibayangkan anak ke 5 dari 8 bersaudara? "Ternyata susah ya, harus sabar dan banyak pergaulan. Saya sempat luntang lantung, sebelum akhirnya seorang wartawan memperkenalkan saya pada sutradara Perawan Lembah Wilis, film pertama saya. Tak terbayangkan bagaimana berbunga hati saya ketika itu. Mungkin seperti kembang disiram hujan. Maklum saya hampir putus asa dan hendak pulang ke Sulawesi he..he.hhee" kata Rara sambil terkekeh. 

Untuk selanjutnya, Rara dengan semangat tinggi terus melirik dan menyabet setiap kesempatan yang diberikan, termasuk sinetron dimana Rara membintangi Si Buta Dari Gua Hantu episode Prahara di Padang Tandus. Saya tak pilih-pilih peran, sekalipun penuh resiko, seperti melompat dari ketinggian untuk adegan tarung. Beberapa kali kaki dan pinggang saya terkilir. Maklum, saya bukan pesilat atau karateka, tuturnya. 

Selanjutnya Rara bermain dalam film Wanita Dalam Gairah main bersama Inneke Koesherawati, Rara mengaku tak takut dituding sebagai bintang panas, seperti yagn dituduhkan pada Inneke. "Bukankah sadis dan seks merupakan salah satu rongga nafas dunia film? Jadi nggak perlu ditakutkan. Itu resiko artis dan saya akan menjalaninya sebatas porsi yang diberikan, " ucap Rara tanpa nada ragu. ~MF 235/201/XI/17-30 Juni 1995



Monday, July 6, 2026

"AKAL AKALAN" Komedi mengakali Calon Mertua


 "AKAL AKALAN" Komedi mengakali Calon Mertua (film lawas). Masih ingat pada ulah Kadir Doyok dalam menghadapi calon ayah mertua galak, Pak Harja (Robert Syarief), dalam film komedi yang sukses besar di awal tahun  1991 "Ikut Ikutan"?.

Nah kini kisah dua bujang lapuk itu dilanjutkan dalam film komedi gres "AKAL-AKALAN" yang tetap diproduksi oleh PT. Parkit Films, namun diedarkan oleh PT. Bola Dunia Film. 

"Kami memang telah sepakat untuk bekerjasama. Jadi urusan produksi film oleh kami, "ujar Raam Punjabi, produser Parkit Film sambil menunjuk rekannya, Jiwat, produser Bola Dunia, "Lalu untuk peredarannya ditangani oleh mereka".

Raam harus diakui sangat lihai dalam mengaduk berbagai unsur adegan kocak untuk dirangkai menjadi satu cerita komedi yang utuh. Apalagi memang sudah lama kompak dengan Arizal selaku sang dalang yang mampu mewujudkan ide-ide sang produser. 

Dua pelawak yang slalu dipasangkan, Kadir-Doyok, juga nampak semakin kompak dalam mengumpankan bahan tertawaan. Diperkuat oleh Fuad "Wan Abud" Alkhar. 

Lalu dua primadona diperankan oleh Kiki Fatmala dan Lia Warokka (menggantikan peran Ayu Azhari dalam "ikut Ikutan").

Sang Camer galak juga dilanjutkan perannya oleh Robert Syarief. Diramaikanlagi oleh sebarisan figuran cewek seksi. 

Pada Awalnya Pak Harja, ayah Abud, Rosa dan ira, sama sekali tak menyukai Kadir Doyok yang dianggapnya merayu kedua putrinya hanya karena mengincar hartanya belaka. Namun lambat laun kekolotan pendiriannya ini berubah. Dengan mata kepalanya sendiri, Pak Harja melihat keteguhan dan kesungguhan hati kedua bujangan ini ketika mereka menginap di villanya. 

Ketika membaca adanya Lomba Tari Modern, timbul ide Ira untuk melatih mereka menari bersama. Sementara Abud disibukkan dengan problema mencari calon isteri. Dari sebuah Biro Jodoh ia mendapatkan daftar sejumlah cewek. Sebagai calon saudara ipar, Kadir-Doyok mau tak mau diminta ikut membantu menyeleksi. 

Dimanapun bekerja, karena masih belum berpengalaman, Kadir-Doyok selalu bikin onar. Antaranya dipabrik kue dan disebuah restoran. Belum lagi melayani cewek-cewek calon istri idola untuk Abud lewat testing pacaran lebih dulu. Kacau balau segalanya. 

Apa boleh buat, terpaksa Kadir-Doyok harus main akal-akalan untuk menutupi kegagalan mereka. ~ sumber MF 142/109/TH. VIII, 7 - 20 Des 1991

Saturday, July 4, 2026

SONNY DEWANTARA, "SAYA NGGAK PERNAH JENUH"

 


SONNY DEWANTARA, "SAYA NGGAK PERNAH JENUH" (berita lawas). Masih ingat aktor ini? Nama Sonny Dewantara melejit sejak membintangi film-film berjudul serem, Permainan Binal, Cinta Terlarang, Di Balik Pelukan Laki-laki serta masih banyak lagi judul film dan sinetron.

Setelah nama mulai berkibar, tawaran untuk masuk dapur rekaman pun menguak lebar. Maka beredarlah 4 album yang berirama dangdut bertajuk Hatimu Tak Secantik Wajahmu, Jawaban Bukan Yang Pertama,  Kopi Susu dan Ombak Pun Balik Ke Pantai. "Saya sangat bersyukur kepada Allah Swt yang telah mengabulkan apa yang say aimikan untuk jadi penyanyi rekaman,"ujarnya ketika di temui di lokasi suting sinetron Mutiara Cinta di Polsek Pasar Minggu Jakarta Selatan. 

Ternyata jauh sebelum menekuni dunia film, Sonny juga seorang model dan wajah kerennya pernah di pakai untuk mengiklankan berbagai produk kemeja, tshirt serta celana jeans. 

Sayangnya aktor kelahiran kota kretek, Kediri ini agak tertutup soal pribadinya.  berikut petikan wawancara dengan MF terbitan nomor 258/224/XII/4-17 Mei 1996

Bagaimana ceritanya anda bisa terlibat dengan dunia akting?

Waktu masih di kampung cita-cita saya ingin jadi penyanyi terkenal dan saya sering manggung. Makanya begitu lulus SMA saya langsung merantau ke Jakarta dengan harapan cita-cita saya untuk jadi penyanyi terkenal bisa terwujud. Setelah beberapa bulan menetap di Jakarta, saya ditawari main film oleh mas Sophan Sophiaan untuk main filmny ayang berjudul "Suami". Karena ditawari, saya jadi ingin mencoba. Eeh, nggak tahunya saya merasa cocok, sreg di hati dan keterusan sampai sekarang. 

Sekarang Anda terkenal dengan sebutan aktor film "esek esek", Anda bangga dengan julukan itu?

Film apa? Esek esek, mbok kalau njuluki film sendiri yang enak! jangan jelek banget seperti itu, tapi nggak apa! Sebenarnya kalau orang melihatnya dari sisi luarnya saja, film yang saya mainkan memang terkesan film seks murahan. Tapi kalau dilihat secara utuh seksnya itu sekedar bumbu. Dan film-film asing pun banyak melakukan hal seperti itu, tapi karena di babat oleh badan sensor maka yang muncul ya yang sudah sopan. 

Ketika "love scene" pernahkan anda terpancing?

Karena sering main saya selalu konsentrasi dengan kamera dan skenario, jadi nggak pernah terpancing. 

Sekalipun lawan mainnya cantik dan berbadan moi?

Ya! karena saya berusaha main sebaik mungkin dan selalu berusaha untuk konsentrasi dengan kamera dan skenario . 

Apakah Anda tipe cowok yang gampang jatuh cinta?

Rada sudah mas. Kan beberap akali ketemu saya dilokasi suting pernah nggak sampean melihat saya bawa cewek atau gonta ganti cewek?

Tapi kalau cowok keren nggak pernah jalan bareng sama cewek, justru dicurigai ada kelainan?

Itulah sulitnya kita sebagai artis yang terkenal. Gonta ganti cewek jadi omongan, nggak suka sama cewek juga diomongin. Tapi semuanya saya serahkan kepada mereka untuk menilai saya. 

Kebanyakan cowok populer gampang gonta ganti pacar, bagaimana dengan Anda?

Itu tergantung manusianya, jangankan kita artis yang menjadi public figur, pegawai negeri yang ganteng dan gonta ganti cewek juga nggak sedikit. Karena bukan publik figure jadi nggak jadi sorotan. 

Setelah masuk dapur rekaman dan di film Anda juga sukses, kalau disuruh memilih yang mana diantara dunia nyanyi dan film yang paling disukai?

Dua duanya. Karena keduanya sama-sama mengasyikkan dan saya merasa dunia nyanyi dan film sudah mendarah daging dalam hidup saya, jadi sulit untuk dipisahkan. 

Tahun 1995 lalu, Anda banyak kegiatan suting bahkan hampir tidak pernah istirahat. Pernahkah mengalami kejenuhan? 

Nggak pernah! karena dalam menjalani profesi saya ini dengan enjoy dan sepenuh hati. Jadi nggak pernah mengalami rasa jenuh. 

FERRY IRAWAN KUSUMA


 FERRY IRAWAN KUSUMA (Berita Lawas). Wajahnya yang keren membuat nama Ferry Irawan Kusuma mudah melesat di jajaran papan atas model Indonesia. Selain itu wajah Ferry yang imut-imut juga mulai jadi rebutan para produser sinetron. Sebagai seorang model newcomer, Ferry ingin total menekuninya.  Karenanya, Ferry yang adik kandung artis jelita Moudy Wilhelmina ini pilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi dulu. Daripada maksain melanjutkan tapi malah berantakan. 

Saya kepingin total dalam menekuni bidang apapun, makanya ketika saya dituntut oleh diri sendiri, sekolah apa karir? Tentunya saya pilih karir dulu, toh sekolah bisa menyusul, tapi kalau kesematan kan tidak akan datang dua kali, " ujarnya saat ditemui di lokasi suting sinetron Dunia lain garapan sutradara muda Eko S Pradana di Jl. Zambrut Jakarta Selatan. 

Berikut sekilah petikan wawancara dengan Ferry Irawan dari Majalah Film no 263/229/XII/13-26 Juli 1996

Bagaimana ceritanya kamu bisa kecantol dengan dunia model dan sinetron?

Dua kakak saya, Denny dan Moudy Wilhelmina kan model dan artis sinetron. Oleh kakak-kakak saya itu, saya sering diajak untuk acara pemotretan ataupun ke tempat agency iklan. Nah, waktu saya diajak oleh kak Denny ke Citra Lintas salah satu staff dari Citra Lintas ngaku suka banget sama wajah saya yang katanya imut-imut. Kemudian saya dikasih kerjaan untuk mengiklankan produk H & R. Ya udah sejak saat itu saya mulai menekuni dunia model. 

Kamu kan sudah menjadi model iklan, tapi kenapa masih ikutan lomba cover boy?

Waktu aku menjadi model iklan H & R kan masih kelas II SMP. Umur segitu kan lagi seru-serunya ikutan lomba. Kayaknya nggak oke kalau nggak ikutan cover boy. Akhirnya aku memang ikutan lomba cover boy majalah Mode dan aku kepilih sebagai juara favorit, lumayan kan?

Bagaimana pengaruhnya setelah menang Cover Boy untuk karir kamu?

Pasti ada, buktinya setelah menang, aku banyak mendapatkan tawaran untuk mengiklankan berbagai produk. 

Misalnya produk apa saja?

Aku jadi dikontrak untuk produk Tshirt Hammer, permen Dindin, Sikat Gigi Formula. 

Setelah menjadi seorang model, apa langkah kamu selanjutnya?

AKu ingin jadi model profesional dan tentunya terkenal. Minimal seperti kakak-kakak saya. 

Banyak orang yang nggak berani menaruh harapan dari dunia model dan artis, tapi kelihatannya kamu yakin betul. Apa alasannya?

Segala sesuatu kalau kita yakini bisa menghasilkan sesuatu buat kita dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan menghasilkan sesuatu juga, begitu dengan dunia model yagn sedang aku rintis ini. Aku yakin kalau aku tekuni bisa juga untuk sandaran masa depan. Makanya aku mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Karena aku berharap betul dari dunia model untuk masa depanku. 

Sejak kapan kamu tertarik dunia akting? Sekitar tahun 1994 ~~~

Friday, July 3, 2026

TUAN NYONYA & PEMBANTU, Atau Pembantuku Kekasihku?

 


TUAN NYONYA & PEMBANTU, Atau Pembantuku Kekasihku? (film lawas). Dulu Almarhum Nya' Abbas Akup pernah bikin "Inem Pelayan Sexy", Komedi bermutu dan laris yang berlanjut sampai film ketiga.  Kemudian Mardali Syarief (sebelumnya menyutradari "Dorce Ketemu Jodoh" yang tak karuan menggarap "Tuan, Nyonya dan Pembantu" produksi PT. Pancaran Indra Cine (produksi perdananya "Luka Diatas Luka"). Tapi tentu saja janganlah membandingkan kedua film ini dalam level yang sama. 

Ceritanya di gubah dari cerber berjudul sama karangan Abdullah Harahap yang pernah dimuat diharian "Analisa", Medan. Diperan utamai Deddy Mizwar sebagai si Tuan yang hampir selalu berwajah muram dan agak membungkukkan punggung seperti keberatan menanggung beban hidup. Anna Shirley (istri Onky Alexander dalam "Rebo & Robby") sebagai si Nyonya, mendapatkan kesempatan untuk memamerkan lengannya yang gede (sebelum main film memang pernah jadi juara Panco beneran). 

Lalu, sebagai si Pembantu dipasang Evalia Rachmat, yang sebelumnya lebih serin bermain dalam film-film produksi Inem. Aktingnya dengan mata plerak plerok seperti orang ketakutan selalu mustinya lebih kena dipasang dalam film horor. 

Ikutan mendukung, Alba Fuad sebagai Yanti, sekpri si Nyonya yang wanita karier dan Edwin Lerrick sebagai suami Yanti, plus sejumlah pemain anggota PARFI Semarang, karena memagn keseluruhan suting film ini berlokasi di ibukota Provinsi Jawa Tengah itu. 

Kenati musik ditata oleh Areng Widodo (yang peraih Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik FFI 1990 lewat "Jangan Renggut Cintaku), namun kini terasa lewat tanpa kesan. Begitu pun kerja kamerawan Partogi Simatupang tak menonjolkan suatu prestasi. Tapi bagaimanapun juga Tuan Nyonya & Pembantu termasuk sebagai satu dari 19 Film Pilihan FFI 1991.

Cerita Filmnya, Alkisah Zainul-Maryani yang entah bagaimana bisa jadi suami-isteri. Maryani yang jadi manager hotel mewah, menugasi pembantunya, Surti, untuk mengurus segala keperluan sehari-hari Zainul. Bukan cuma menyiapkan makan, minum dan pakaian, termasuk juga mencopotkan celananya. 

Padahal Zainul yang kontraktor ini kepingin selalu dilayani isterinya sendiri. Tapi Maryani kelewat keras. Sebelum bersenggama pun, ia menantang adu Panco lebih dulu. Siapa yang menang, dialah yang diatas. Dan selalu Zainul harus berada di bawah. 

Sekilah diungkap kekerasa watak Maryani karena semasa kanak-kanak disia-siakan ayahnya, pelaut yang pemabukan. Mungkin karena inilah, ia membenci pria dan ingin membuktikan mampu melampaui lawan jenisnya. Kalau kepada Zainul, ia selalu bersikap kasar, sebaliknya pada Yanti sekprinya, Maryani memperlakukan dengan lembut dan penuh perhatian. Sampai tumbuh kecurigaan Zainul , jangan-jangan mereka lesbi. 

Maryani memang pernah mengajak Yanti tidur bersama dihotel. Ketika suami Yanti marah-marah di kantor, malah dilabrak Maryani sampai terjungkal. 

Zainul yang nyaris frustasi, mengalihkan perhatiannya pada Surti. Yanti mulai mengendus gejala ini, memberi peringatan pada Maryani. Semula Maryani tak percaya. Namun demi memergoki suaminya masuk ke kamar pembantunya, ia mengamuk, Surti dipecat, Zainul diuber-uber dengan buldozer pengeruk tanah. 

Film diakhiri dengan mengikuti perjalanan Surti. Naik perahu menyusuri danau. Apakah ia akan kembali ke kampungnya dan kembali menjadi wanita tani? lalu bagaimana Zainul dan Maryani? Apakah mereka akan bercerai atau rukun kembali. ? ~ sumber MF 142/109/TH. VIII, 7 - 20 Des 1991