BENDI KERAMAT, BERLOKASI SUTING DI GARUT, (Berita lawas) Abdillah Harris adalah sutradara gaek baik dalam usia maupun pengalaman. Pengalaman di dunia film mulai sebagai asisten Kamerawan pada zaman pendudukan Jepang. Lalu jadi pemain Sandiwara. Dalam kancah revolusi ia menjadi anggota BKR, TKR (Cikal Bakal TNI). Berhenti dari dinas kemiliteran dengan pangkat Sersan mayor.
Setelah bermain dalam beberapa film, Harris hengkang ke Malaysia. Malah berhasil jadi sutradara. Diantara film-filmnya yang sukses dengan mahabintang Malaysia P. Ramlee adalah "Pendekar Bujang Lapok" dan "Sersan Hasan".
Kembali ke Indonesia, ia ikut menyutradarai film silat patungan Indonesia - Taiwan "Panji Tengkorak" (1972) yang dibintangi oleh Shangkuan Linfung, Deddy Sutomo dan Lenny Marlina. Diantara karya penyutradaraan kemudian tercatat "Oma Irama Penasaran", "Karena Penasaran","Elang Laut", dan terakhir "Sona, Anak Srigala" yang pemasarannya rada seret.
Setelah cukup lama beristirahat, mendadak A Harris muncul lagi dengan produksi perdana PT. Metro Vistaria Film, perusahaan film baru yang dikenalikan oleh puterinya sendiri, Dahria B Hadiyanto.
Kali ini sebuah komedi dengan pelawak-pelawak jebolan Srimulat, Basuki, Timbul dan Sunaryo. Sebagai primadona dipasang Lydia Kandou. Namun karena Lydia sedang dalam keadaan perut besar, timbul kesulitan bagi kamerawan Sonikin. Tak kehabisan akal, Harris mengatur agar Lydia mengenakan daster atau di sut wajahnya saja. Ketika diambil adegan Lydia berbaring di ranjang, maka perutnya ditutup dengan guling hingga tak terlihat kehamilannya.
Akal-akalan orang film," dalih Harris. "Sebab terlanjur sudah mengontrak Lydia. Kalau harus menunggu Lydia melahirkan , kapan filmnya selesai. Alhasil film yang keseluruhan lokasinya di kota dodol Garut itu berhasil dirampungkan dalam tempo 24 shooting days.
Diceritakan, Basuki, anak janda Komala hendak meminjam bendi warisan yang disimpan Paman Pandi. Semula sang paman keberatan, karena bendi keramat itu sngat berbahaya bila di jalankan di tempat umum. Konon, kalau wanita melihatnya dengan mata telanjang, bisa langsung terpelet pada si kusir.
Jadi seperti halnya bila ada gerhana, untuk menghindari tergila-gila pada si kusir, wanita harus mengenaka kacamata hitam. Lalubagaimana kalau sudah terlanjur kepelet? Ada obatnya, nyanyikan saja lagu lawas "Kudaku Lari", sambil berjoget.
Mendengar kemanjuran bendi itu, ayah Lydia, yakni Pak Timbul, yang tua-tua keladi, kepingin banget meminjamnya untuk memelet wanita-wanita. Akibatnya, ibu Lydia, Bu Mimin minggat dari rumah.
Bertambah kisruh dengan munculnya Dukun Embah Lepus yang menuntut Basuki. Tapi kemudian semua diakhiri dengan perkawinan Basuki Lydia. Sebagai mas kawin, Basuki mengajak Lydia berbendi-bendi keliling kota. Eh wanita-wanita yang tak berkacamata hitam spontan menguber-uber basuki. Termasuk ibu mertuanya sendiri. Bu Mimin. Kacau balau semuanya.
Basuki kalau melawak di panggung, dengan improvisasinya, memang menyaingin Gepeng, tapi main film berbeda dengan melawak bebas. Kalau dipaksakan malah jadinya "over acting". Apalagi ia belum pernah menjadi pemeran utama dalam film, meski sudah dipertemukan sutradara Hengky Solaiman dengan Meriam bellina dalam "Senjata Rahasia Nona".
Maunya A Harris yang mengangkat cerita Yoyo Dasriyo ini jelas hendak menyuguhkan komedi situasi. Sayang rupanya mereka jarang menonton film-film komsit masakini sebagai padanan, hingga tetap saja pada pola penggarapa kuno. Mengharpakan penonton bisa tertawa dengan adega uber-uberan tok. jadinya ya kudaku lari lah. ~diambil dari MF No 052/20/Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988
Produksi : PT. Metro Visitaria FIlm, Produser : Dahria B Hadiyanto, Sutradara/Skenario/Penata Musik ; A Harris, Cerita : Yoyo Dasriyo , Kamerawan : Sodikin, Editor Ermis Thaher, Pemain : Lydia Kandou (Lydia), Basuki (Basuki), Timbul (Timbul), Ade Irawan (Bu Komala), Aminah Cendrakasih (Bu Mimin), Arman Effendi (Paman Pendi), Jaja Miharja (Mbah Dukun), dan Hanna Marlina (Leila)









