Showing posts with label Film Jadul. Show all posts
Showing posts with label Film Jadul. Show all posts

Wednesday, February 4, 2026

BOLEH BOLEH AJA, SIH

 


Pada awal tahun 1990, Rapi Film memasuki usia yang ke 18 tahun, dan produksi yang ke 65 adalah film "Boleh Boleh Aja , Sih" Sebuah film bertema drama komedi remaja yang ringa-ringan ajalah, " ujar produser pelaksana Subagio Samtono dengan nada ringa, sementar aitu adiknya , produser Gope Samtani, sedang berada di Hongkong untuk proses akhir film "Makelar Kodok".

Film remaja ini di sutradarai oleh Hadi Purnomo. Bermula sebagai pemain teater, anggota "Teater Kecil-nya Arifin C Noer, Hadi memulai debutnya sebagai sutradara lewat "Perisai Kasih Yang Terkoyak" (Dibintangi Nena Rosier dan Dwi Yan). Film keduanya "Akibat Terlalu Genit" sampai lama tertahan di BSF. Malah film ketiganya lebih dulu beredar, "Godain Kita Dong" dengan Warkop Dono Kasino Indro. 

Lalu siapa saja pendukung film "Boleh Boleh Aja, Sih?". Filmnya dibintangi oleh bintang-bintang remaja yang paling menonjol adalah Sally Marcellina dan Paramitha Rusady, lalu Tio Pakusadewo dan Ade Giuliano, didukung pula oleh Ida Kusumah, Gugun Benget, dan James Sahertian. Kamera ditangai oleh Asmawi. 

Film ini dirancang oleh Deddy Armand yang memang tersohor sebagai penulis skenario paling produkfit. Bisa di bayangkan pasti tentang dunia remaja yang ceria, seperti produksi Rapi sebelumnya "Lebih Asyik Sama Kamu" yang juga di bintangi Paramitha dan Sally , plus Ryan Hidayat. 

"lokasi sutingnya juga tidak jauh-jauh, paling di Jakarta dan sekitarnya saja, tambah Hadi yang belum ingin bercerita banyak tentang film keempatnya ini. 

Samtono malah mempromosikan film-film Rapi yang akan datang. Ada film bertema thriller "Guntur Tengah malam" ada film silat "Pedang Naga Pasa". Tak ketinggalan dipersiapkan juga komedi "Makelar Kodok mencari Rejeki" (Makelar kodok untung besar )

"Seperti supermarket, Rapi ingin menyediakan bermacam-macam tema film secara  komplit. Apa aja ada!.

Sunday, February 1, 2026

SUTING "BERCINTA DALAM MIMPI"

 



SUTING "BERCINTA DALAM MIMPI" , Nasri Cheppy yang selalu akrab dengan permasalahan anak muda, kembali bicara tentang anak muda dalam film yang disutradarainya "Bercinta Dalam Mimpi karya cerita dan skenario Putu Wijaya, Produksi PT. Bola Dunia Film dengan bintang pendukung antara lain Meriam Bellina, Onky Alexander, Didi Petet dan Pendatang baru Marintan Panjaitan dan lain-lain. 

Suting dimulai akhir 1989 dan selesai sekitar 30 hari suting. Dalam mengerjakan film ini Cheppy dibantu oleh Harry Soesanto sebagai penata fotografi/juru kamera, penyunting gambar SK Syamsuri, Ilustrasi Musik oleh Indra Lesmana, dan Penata Artistik oleh Bakti Saleh. Suting seluruhnya dilaksanakan di Jakarta. 

"Film ini menggambarkan kenyataan indah dari mimpi. Biasanya mimpi lebih indah dari kenyataan kan?" kata Cheppy. Setelah film ini, Cheppy ditunggu untuk memproduksi "Catatan Si Boy IV". 

"Pernah saya disodori untuk menggarap film horor, namun saya tolak. Serahkan saja pada yang ahli mengenai bidang itu. Karena saya kan punya spesialisasi sendiri, " ungkap Cheppy dalam kesempatan lain. 

Salah satu scene film ini menceritakan Didi Petet sedang mimpi. Dalam mimpinya itu terlihat Meriam Bellina diserang oleh sekawanan perampok. Kemudian Didi membantu meriam untuk melawan peram pok tersebut. Belum sempat Didi mengalahkan para peram pok, ia sudah keburu terbangun. Lalu ia memakai baju Batman dan tidur lagi. Mimpinya nyambung. 

Didi Petet sebagai Batman berke lahi dengan para peram pok, hingga kawanan peram pok tersebut dibikin "keok". Setelah bangun Didi Petet langsung berkirim surat pada Meriam Bellina dan  langsung disambut baik oleh Mer yang bersimpati pada dirinya. 

Pada kesempatan berikutnya dilaksanakanlah suting antara Didi Petet dengan Marintan Panjaitan di sebuah taman di jalan Pattimura, Jakarta dan malam harinya adegan Onky Alexander dan Meriam Bellina di Cinere Jakarta Selatan. (cat. Cinere itu masuk depok kan ya?..

MF 095/63/Tahun VI, 17 Feb - 2 Mar 1990



Wednesday, January 28, 2026

PIN PIN BO, KOmedi Biro Jasa Tulalit

 


PIN PIN BO, KOmedi Biro Jasa Tulalit. PINTAR PINTAR B O D O H , judul yang sama pernah di produksi Parkit Film dengan sutradara Arizal di film Warkop DKI bersma bintang Eva Arnaz, Dana Christina dan Debby Cynthia Dewi. Hasilnya meldak luar biasa di Jakarta meraup 474.918 penonton. Alhasil dianugerai piala Antemas sebagai film Terlaris 1981-1982 dalam FFI 1982. 

Multivision Plus yang merupakan anak perusahaan dari Parkit menggunakan judul tersebut untuk serial komedi setengah jam. Sutradaranya Cuk F Kristianto. Sebelumnya di nilai produser Raam Punjabi cukup berhasil mengarahkan Kadir Doyok dalam serial Kanan Kiri Oke. 

Serial Komedi yang memadukan situasi kocak dengan slapstick ini menampilkan empat pemain utama , Jeremy Thomas yang juga bintang tetap Multivision setelah Hati Seluas Samudera, Bella Vista, Rosanna dan Anakku Terlahir Kembali. Komedian Izur Muchtar dari grup Project P, Diana Pungky dan pelawak Polo Srimulat. Pada setiap episode dihadirkan pula bintang-bintang tamu yang mengajukan persoalan untuk dipecahkan. 

Ceritanya Diana yang kaya mendirikan Biro Jasa PT. Tulalit singkatan dari Tugas Lancar Tanpa Berbelit Belit. Dua sahabatnya Robby dan Bobby diangkat jadi direktur. Satu-satunya anak buah mereka yang menjadi seksi repot adalah Satpam Polo. 

Biro jasa Tulalit menerima order apa saja, maunya sih kepingin jadi kantor detektif swasta ala Amerika. Maka berdatangan klien dengan order yang aneh-aneh. Ada seorang istri yang minta bantuan agar suaminya bun uh diri saja, ada seorang ayah yang kehilangan putrinya, ada lagi seorang gadis yang  minta diambilkan dompetnya di kantor polisi. 

Robby dan Bobby dibantu Polo bersemangat mengerjakan semua tugas. Tapi dasar watak mereka pin-pin-bo, bukannya beruntung malah lebih sering nasib buntung yang menimpa mereka. Contohnya dompet yang diambil Bobby dengan mengaku sang klien sebagai pacarnya, ternyata berisi puluhan butir ekstasi, karuan polisi mencurigainya. 

Berbagai peristiwa kocak menwarnai adegan demi adegan dari serial yang pernah tayang di Indosiar pada setiap Jumat pukul 20.30 pada akhir 1996 dan seterusnya. 

Produksi : Multivision Plus

Produser : Raam Punjabi

Sutradara : Cuk FK

Pemain : Jeremy Thomas, Diana Pungky , Izur Muchtar, Polo

Sunday, January 25, 2026

JOE TURUN KE DESA, SUKA DUKA MAHASISWA KKN


JOE TURUN KE DESA, SUKA DUKA MAHASISWA KKN

 Setelah memproduksi Namaku Joe yang diangkat dari skenarionya Marwan Alkatiri, film arahan Nasri Cheppy itu dibintangi oleh Didi Petet, Meriam Bellina, Onky Alexander, Paramitha Rusady dan itang Yunasz. Ceritanya Mahasiswa Zoelkifli yang kepingin keren mengganti namanya jadi Joe. Kawan-kawannya memang anak-anak gedongan seperti si Boy, Ketika jatuh cinta pada Pingky (Mer), ia sampai melupakan pacar lamanya yang setia (Mitha), kemudian PT Virgo Putra Film kembali memproduksi dengan judul "Joe Turun Ke Desa" dan hanya dua bintang yang kembali bermain yaitu Didi Petet dan Meriam Bellina. Onky, Mitha dan Itang, ditinggalkan di kota karena memang ceritanya berkisar tentang rombongan mahasiswa yang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Skenarionya di tulis oleh dramawan Putu Wijaya serta penanganan Chaerul Umam, embuat karakter baru bagi Joe dan Pingky. Joe bukan lagi mahasiswa yang cuma tahu berfoya foya, melainkan jadi mahasiswa yang sok pintar kendati sering kejeblos sendiri. Begitu pula halnya dengan Pingky, tak lagi cuma tahu ngebut dengan mobil mentereng dan berpacaran melulu. 

Film diawali dengan nongolnya tiga wajah berandalan desa yang dandanannya serba ngepunk, lengkap dengan jaket kulit hitam dan rambut dikanji kaku. Bertiga semotor mereka menyaksikan kedatangan rombongan mahasiswa KKN. 

Joe yang memimpin regunya menyebarkan kawan-kawannya mewawancarai penduduk. Sikap sok pintar mereka sering menjerumuskan, karena sesungguhnya penduduk desa tidaklah sebodoh perkiraan mereka. Bisa diuga juga kalau ada mahasiswa yang berebut menarik perhatian bunga desa, Neneng. Joe menjadi penasihat cinta Budi yang pemalu sedangkan saingannya, Iman di dukung oleh Pingky. Gara-gara diboncengkan sepeda oleh hansip, Pingky nyaris menggegerkan kampung itu. Isteri Hansip mengamuk-ngamuk menyatroinya. Terpaksa Pingky mengaku sudah bertunangan malah akan segera menikah dengan Joe. 

Tiga berandalan yang terus mengacau, nyaris memperkosa Pingky, kalau saja tak muncul Ujang, petani muda yang simpatik. Pada buntut film ketahuan kalau Ujang sebenarnya adalah Sarjana pertanian yang membaktikan dirinya di desa ini. Pingky semakin tertarik kepada pemuda penolongnya itu. Sedangkan persaingan antara Budi dengan iman, berakhir karena diumumkannya pertunangan Neneng dengan Pak Kades. Bagaimanapun juga KKN ini merupakan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi mahasiswa mahasiswi ibukota ini. 

Film diakhiri dengan tiga berandalan yang sudah insyaf. Mereka menanggalkan segala atribut punk-rock, malih rupa jadi pemuda-pemuda petani. 

"Joe Turun Ke Desa" memang sebuah film komedi. Jelas bukan jenis banyolan slapstick yang mampu membuat penonton terbahak-bahak. Nampaknya bagi Umam, sudah cukup kalau orang tersenyum senyum kecil saja. Pesan-pesan yang tersirat rasanya terlalu gamblang untuk di terka oleh penonton anak-anak sekalipun. Demikian pula dengan permasalahan serta situasi yang mengarah pada hal-hal lucu belum menyodorkan hal yang baru atau diluar dugaan. 

~


Friday, January 23, 2026

SUSUK NYI RORO KIDUL, AYU YOHANA MENGGESER SUZANNA?


SUSUK NYI RORO KIDUL, AYU YOHANA MENGGESER SUZANNA?

PT. Rapi Films kini merambah ke tema horor. Agaknya PT Soraya Intercine Films sebagai special horor telah bergeser,  setelah era duet Sisworo Gautama Putra dan Suzanna telah berlalu. Rapi Film memasang gacoan baru, Ayu Yohana sebagai Nyi Roro Kidul. Dapatkah Ayu menggeser kedudukan Suzanna? "Saya mampu" ujar Ayu Yohana. "Karena saya sudah pamitan kepada penguasa Pantai Laut Selatan, " katanya. 

Sakral dan magis selalu saja tema film jenis ini. Bagi masyarakat Jawa , Nyi Roro Kidul merupakan mitos "Dan bila legenda nini dilayar lebarkan kembali, pastilah dapat menyedot penonton", kata co-sutradara Prawoto SR di lokasi suting di Yogyakarta. 

Oran gfilm harus pandai bersiasat, bila filmnya ingin dilirik penonton. Siasat itu, sensual, trick dan moment. Sekarang film tanpa bumbu sex, ibarat makan tanpa garam. Pun dalam film produksi PT. Rapi Films yang ke 78 ini. Sensual tetap menu yang cukup dominan, Karenanya sepanjang suting materi cerita acap berganti ganti. 

Tatkala suting perdana, semua kru 'empot empotan" ada rasa angker. Ayu Yohana nyaris tak bersedia membintangi Nyi Roro Kidul. Sepanjang suting beberapa keanehan muncul. "Kalau saja tidak "permisi" dengan penguasa Pantai Laut Selatan, mendingan saya balik ke Jakarta," katanya. Konon tak sembarang waktu bisa menggarap Nyi Roro Kidul. Sampai soal warnapun harus minta "restu".

Bagi Rapi Films, Film Susuk Nyi Roro Kidul yang ditulis oleh Darsono DA ini merupakan yang ketiga kalinya memproduksi di kota Yogyakarta.  "Ada lokasi tertentu yang tidak dimiliki daerah lain yang dapat memperkaya set film ini," kata sutradara. Separuh dari lokasi suting mengambil set sisa reruntuhan keraton Yogyakarta. Seperti Sumurgemuling, Pulau Cemeti dan bekas keputren serta beberapa tempat lainnya. 

Susuk Nyi Roro Kidul apa pernah ada? Film ini jelas fiktif. Terbilang sosok wanita tua Ni Surti ingin menjadi wanita tercantik dalam abad modern ini. Lalu, melakukan perjanjian dengan Nyi Roro Kidul. Dari sini materi cerita diangkat. 

Dengan darah setiap korban yang di persembahkan kepadanya membikin kesaktian Ni Surti semakin tinggi. Rupanya Ni Srti ingin menjajal kesaktian Nyi . Roro Kidul. Ia telah sesumbar akan menaklukkan  Nyi Roro Kidul. Padahal Ni Surti dapat ilmu dari Nyi Roro Kidul. 

Amarah Nyi Roro Kidul tak bisa dibendung lagi melihat kesombongan Ni Surti. Maka terjadilah perang diantara keduanya. 

Para pendukung film ini diantaranya : Sally Marcellina, Ayu Yohana, Azwar AN, Windy Chindyana, Christine, Rendy Ricky, Johny Anwar, EX Bambang, Esri Komara, Anissa, Andy Jufri, dan Sonny Dewantara serta artis Yogya lainnya. 

Kru diantaranya adalah Azwar AN (Sutradara), Prawoto SR - Co Sutradara, Irawan Subang - Skrip, H. Adi Mukti - Kamerawan, Khasmir Lubis - Ass Kamerawan, Yanis Badar - Editor,Marlan Jass - Penata Artistik, dan Nazwar Nawawi - Manager Produksi. 


~MF 201/167/THX 12-25 Maret 1994

Monday, January 19, 2026

FILM "PELURU DAN WANITA"

 


FILM "PELURU DAN WANITA" sungguh memiliki konotasi pada film perjuangan atau melesetnya film action. Yang ke dua rasanya lebih pas. Sebab sejak awal hingga akhir "Peluru dan Wanita" menyuguhkan aksi itu. 

Ada mobil di hancurkan, pasar di porakporandakan dengan mobil yang mirip babi buta atau meloncat dari gedung ke gedung lalu jatuh ke sungai dan kejar-kejaran tak kenal lelah. Termasuk tentu saja action di ranjang indah di gubug reyot ditengah sawah. Untuk lebih mensyahkan film action, produser Parkit Film lalu menghembuskan irama promosi dahsyat bahwa film menghabiskan dana sebesar 2,5 milyar rupiah.

 Dan film ini memang dibuat dengan semangat meriah itu. Cerita menjadi nomor sekian. Pemeran bisa di bolak balik. Judul bisa di reka reka. Apa "Peluru dan Wanita" atau "Agen CIA" atau "Ngamuknya Bule Amerika" sebab jika di ulur-ulur logika maka tak akan ketemu apa hubungannya peluru dan wanita dalam film ini. Lebih nggirisi kalau kemudian peredaran di luar neger film ini dengan judul "JAKARTA". 

Sebab Jakarta yang dijual adalah Jakarta yang kacau, kampungan, lethek (lusuh), semrawut, juga masih banyak gerilya-gerilya macam orang vietnam yang melakukan jual beli narkotika di tengah pasar kumuh. 

Film ini mengisahkan tentang Falco, bujangan Amerika mantan agen rahasia CIA yang pernah dan ditugaskan ke Indonesia untuk menyeret penjahat penjual candu asal Amerika yang ngacir ke Indonesia. 

Untuk mengerti cerita film ini sendiri, selain sabar meretrospeksi bisa juga dengan lapang dada mencoba mengerti apa maunya sang sutradara asal Amerika Charles Kauffman dan Eddy Bakker asal Indonesia. 

Dalam adegan pertama di buka dengan tokoh Falco berlari-lari setengah teler di jalaan ramai di New York. Tiba-tiba mata Falco yang di perankan cukup lumayan oleh Christopher North yang mirip aktor Mickey Rourke ini, menangkap wanita berbaju merah yang ia kira adalah Esha, gadis Indonesia kepada siapa Falco pernah jatuh cinta. Tapi Falco kecele karena bukan Esha. Justru ia disangka maling dan dikejar-kejar oleh polisi. Saat berantem inilah tiba-tiba Falco berada di Indonesia. 

Yang menarik adalah perpindahan setting cerita dari Falco yang berada di Amerika dan Falco yang terbaring di Indonesia. Sebuah bayangan wayang kulit berujud gunungan di mimbar putih dengan indah sekali menunjukkan peralihan adegan dan setting cerita ini. 

Tapi selebihnya tanpa rencana kelanjutan tiba-tiba dilayar terpampang telop Tiga tahun lalu. Dan kisah pun di mulai ketika Falco mengejar-ngejar seorang wanita berbaju merah yang disangka Esha, wanita yang dijadikan saksi tentang penjahat bernama Dolf. Saat Falco akan ketemu Esha tiba-tiba muncul lagi telop Tiga Tahun sebelumnya. 

Sistim pengkilasbalikan pada "Peluru dan Wanita" setidaknya telah membuyarkan konsentrasi penonton. Persoalannya sederhana, Ketika kembali pada masa silam, sutradara tidak menunjukkan kelanjutan runtutan adegan yang sebelumnya di tanam dan dibiarkan berlanjut. Yang barangkali bisa menjadi perhatian dalam "Peluru dan Wanita" adalah juru kamera dan Frans Tumbuan. Denga kelebihan mengambil sudut-sudut pengambilan yang tepat  dan berani membuat film berkadar action ini meyakinkan sebagai sebuah action. Termasuk suting di gang-gang sempit yang bolehlah di beri perhatian. 

Kalaupun toh ada perhatian lain yaitu tentang penggunaan wayang kuit sebagai wakil emosi para tokoh-tokohnya serta upaya menyuguhkan sebuah tontonan tanpa peluru . Selebihnya nilai Rp. 2,5 milyar tak menujukkan greget film ini belum termasuk peran Zoraya Perucha sekedar tempelan yang bisa dimainkan siapa saja.~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989


Friday, January 16, 2026

SI BUTA DARI GOA HANTU, EPS. LEMBAH MAUT


SI BUTA DARI GOA HANTU, EPS. LEMBAH MAUT. BADRA MANDRAWATA,  si Buta dari Goa Hantu rekaan komikus Ganes TH, merupakan tokoh cergam yang paling sering di filmkan. Diawali episode pertama "Si Buta Daru Goa Hantu", "Duel di Kawah Bromo" sampai ke "Neraka Lembah Tengkorak". Dari yang pertama sampai yang terakhir  tetap di perankan oleh Ratno Timoer yang juga menyutradarai langsung. 

Produksi PT. Sepakat Bahagia Film ini juga di dukung sebarisan pemain yang sudah tidak asing lagi seperti, Piet Burnama, Johan Saimima, Robert Syarief, Eka Gandara, Aspar Paturusi dan Alba Fuad. Ditampilkan pula pendatang baru Vera Fasilia dan Henny Adiaksi. Kamera ditangani Ismaun sedangkan tata musik digarap Harry Rusli. 

Dalam pengembaraannya, Badra tiba di Sulawesi Selatan. Kakinya membawanya ke desa Pandolo yang penduduknya tertimpa petaka wabah kusta. Akibatnya desa itu dikucilkan, penduduknya dilarang keluar, agar tak menular desa sekitar. Datangnya serombongan pembawa obat malah di sabot oleh orang-orang bertopeng. Badra mulai mencium kejahatan yang kepalang tanggung. 

Puang Marempang, Kepala Desa Tantena ikut prihatin, tapi tak berdaya apa-apa. Tabib kepercayaannya, Puang Tombala bersikap Acuh. Sampai datang Tabib Langkara yang berupaya meramu obat mustajab. Ternyata tabib ini adalah mantan perompak ganas yang di juluki Badai Teluk Bone. Puang Marempang kenal benar padanya. Namun ia melarang putrinya, Ranggi menyambut Langkara. 

Banyak peristiwa misterius terjadi. Pembunuhan demi pembu nuhan dilakukan gerombolan bertopeng. Badra, Langkara dan para pendekar muda mengusut sampai ke goa seram. Disarang gerombolan ini mereka menemukan Puang Tombala tertawan. Orang lain bisa tertipu, tapi Barda yang buta dengan indranya mencurigai Tombala. Benarkah Puang Tabib itulah si kepala gerombolan? Bagaimana cara membuktikannya? Lalu ada apa antara Putri Ranggi dengan Langkara?

Film silat ini tak sekedar mengumbar adegan pertarungan seru, namun disisipi juga dengan filsafat hidup Si Buta yang kian tua nampaknya kian bijak dan bertekad membaktikan sisa usia untuk menolong sesama yang tengah menderita. 


Saturday, January 10, 2026

FILM KEMESRAAN, ISTERI IDOLA, SUAMI SERONG


 Kemesraan ini janganlah cepat belalu... memang merupakan top hits yang mencetak rekor luar biasa dalam dunia musik kaset tahun 1989. Tahun 1989 judul lagu ini sudah dibeli oleh Produser Awie Widjaya dari PT. Visindo Merdhika Film untuk di filmkan. Namun Sophan Sophiaan sebagai sutradaranya lebih sreg dengan judul "SUAMI" untuk film yang dibintanginya bersama Widyawati dan Dewi Yull. Maka kemudian Awie menjual haknya pada Punjabi bersaudara yang kebetulan sedang mencari cari judul yang cocok untuk produksi terbarunya yang cerita-skenarionya ditulis oleh Piet Burnama yang juga sutradara. 

Ceritanya melodrama "Kemesraan" adalah tentang seorang suami, Ir. Roy yang terlibat jaringan asmara dengan tiga wanita sekaligus. Padahal istrinya, Lia seorang wanita teladan, cantik, setia, nyaris tanpa cacad. Namun pertemuan kembali dengan mantan calon istrinya, Dra. Ayuni, mulai menggoyahkan iman Roy. 

Dulu Ayuni pernah dhamili Roy yang ternyata tak bertanggungjawab. Sekarang Ayuni melesat sebagai wanita karier yang kekuasaannya bagaikan gurita Konglomerat. Sedikit banyak ia pasti menyimpan dendam  kesumat pada lelaki yang mengkhianatinya. Namun cara pembalasannya sangat aneh. Ayuni melimpahi Roy dengan jabatan tinggi di perusahaan kontraktor raksasa, mobil mewah serta gedung mentereng. 

Sikap misterius Ayuni yang jinak-jinak merpati membuat Roy berusaha memanasi dengan jalan mencari sekretaris pribadinya, si remaja Tania. Namun, Tania juga bukan tipe cewek  yang mudah tergiur oleh uang dan rayuan Roy. 

Betapa hancurnya hati si isteri ideal, Lia, demi mengetahui keserongan suaminya diluar rumah. Akibatnya cukup fatal karena Lia menderita Koma. 

Dua bintang populer yang semula dipipih untuk memerankan tokoh dra. Ayuni dan Ir. Roy adalah Meriam Bellina dan Ray Sahetapi. Namun dalam proses pembuatannya kemudian kedua tokoh tersebut diperankan oleh Mathias Muchus dan Nurul Arifin. Sedang tokoh isteri idola tetap dibawakan oleh Baby Zelvia. 

Tokoh dra. Ayuni boleh dibilang seorang wanita karier jetset masa kini. Sebab peran menantang serta lain dari yang biasanya, dibawakan oleh Nurul. Sayang, nampaknya Nurul masih memerlukan pendalaman agar yang kelihatan cuma keglamourannya belaka. 

Dalam sebuah adegan di pub, Nurul dan Mathias benar-benar menyayikan sendiri lagu "Kemesraan". Semula di rencakanan akan diisi oleh suara Iwan Fals dan Rafika Duri, namun karena berbagai kendala, akhirnya dijajal dinyayikan langsung oleh Nurul dan Mathias. Terbukti suara mereka boleh juga. 

Lagu "Kemesraan" memang merdu mendayu, namun seharusnya tak perlu sampai terlalu banyak (empat kali) di perdengarkan secara utuh. Cukup dua kali saja di awal judul serta di akhir film. 

Yang patut di tonjolkan justru dialog-dialog bernas antara tokoh. Seperti misalnya nasihat om Kasman (Zainal Abidin) yang menyerahkan perusahaannya pada Roy. 

Atau keluhan sendu Ayuni. "Bekas cinta ada, tapi cinta bekas tidak ada!". sedangkan Tania yagn mengaku berusia 19 tahun dan menolak dikeloni Roy. "Aapa yang harus dikatakan pada suami saya dimalam pengantin kalau ia mendapatkan saya sudah tak perawan lagi?".

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Sunday, January 4, 2026

FILM PACAR KEDUA

 


Pada tahun 1986 pernah ada film berjudul "Pacar Pertama" arahan Sam Sarumpaet dengan pemain pemain Dewi Yull dan Ikang Fawzi. Tapi "Pacar Kedua" ini sama sekali tak ada hubungannya dengan film tersebut. Bahkan semula direncanakan berjudul "Malam Panas, Malam Dingin", tapi kemudian karena berbagai perhitungan dari produser PT. Parkit Film diganti. Padahal sebenarnya lebih pas kalau di beri judul "Selamat Tidur , Selamat Bobo", yang memang jadi theme song yang dinyanyikan sendiri oleh pemeran utamanya, Itang Yunasz. Sejak awal pembuka sampai akhir film, sebanyak empat kali lagu ini di tembangkan. 

Bagi Itang, ini memang untuk pertama kalinya menjadi pemeran utama, Dalam debutnya di "Namaku Joe", malah kebagian peran antagonis. Begitu pula pemeran utama wanita, Baby Zelvia, yang sebelumnya cuma kebagian peran tambahan dalam "Kanan Kiri OK".

Judul terasa kurang tepat, karena memang sama sekali tak ada "pacar kedua", yang ada justru pacar pertama yang begitu setia, meskipun kekasihnya telah menjadi isteri orang. 

Film ini bercerita tentang Andi, insinyur pertanian muda, berpacaran dengan Mia. Hubungan mereka di putuskan oleh ayah Mia, Pak Lesmana yang gila judi. Pak Lesmana telah menerima lamaran Iskandar, lawan judinya. Pak Lesmana yang sudah hilap merebut perhiasan isterinya. Malang, Bu Lesmana terjatuh. Kepalanya terbentur keras sampai tewas. Akibatnya Pak Lesmana harus menebusdosa di penjara. 

Perkawinan Mia dengan Iskandar tak berbahagia. Untuk menghibur diri, Mia mengurus peternakan ayam warisan ayahnya. Indra, mandor peternakan menaruh hati, tapi tak pernah di ladeni Mia. 

Pertemuan kembali dengan Andy, mengobarkan cinta lama Mia. Andy masih tetap membujang. Tapi hubungan ANdy dengan Mia difitnah oleh Indra. Dengan memperalat Pak Harja yang berambisi menjadi kepala Desa baru. Andy dan Mia di gerebek. Pasangan ini ditelanjagi dan diarak bugil keliling kampung. 

Pada saat yang sama, Iskandar tewas di bunh di tempat perjudian. Dalam siraman hujan, polisi datang membubarkan kerusuhan di kampung. Pada saat yang sama, Iskandar tewas di bunuh di tempat perjudian. Dalam siraman hujan, polisi datang membubarkan kerusuhan di kampung. Kecurangan Pak Harja di bongkar oleh isterinya sendiri. Si tukang fitnah Indra di keroyok orang kampung. Bagaimana dengan Mia? Perempuan ini berpelukan dengan Andy. 

Tokoh suami kejam dan penjudi pernah di bawakan oleh Kusno Soedjarwadi yang berperan sebagai suami Marini dalam film "Cinta"nya Wim Umboh. Sedikit banyak karakter tokoh Iskandar yagn di perankan oleh Rudy Salam, rada-rada mirip. Malah disini sutradara Yopi Burnama menambahi sekilas masa kecil Iskandar, pernah menyaksikan ayahnya ditikam ibunya, akibatnya ia menjadi trauma, membenci setiap wanita. Tokoh akhirnya ia sendiri harus tewas ditikam perempuan juga. 

Tokoh penjudi lainnya, Pak Lesmana di bawakan dengan over acting oleh Yoseano Waas. Adegan merebut perhiasan isterinya, salah-salah malah membuat penonton tertawa. 

Tapi di balik kisah cinta Andy dan Mia, terselip juga intrik politik perebutan kekuasaan di desa tersebut. Piet Burnama berperan sebagai tokoh munafik, Pak Harja yang mengincar kedudukan Kades dengan menghalalkan segala cara. Didukung oleh Fakhri Amrullah sebagai tangan kanannya. 

Adegan arak-arakan bugil jelas terasa kelewat dipaksakan demi untuk memburu komersial. Mengingatkan  pada adegan penggundulan rambut Yati Octavia dalam film Rahasia Perkawinan. 

Sebagai pemeran utama, Babby Zelvia masih belum memberikan greget padahal peluang suah terbuka untuknya. Profil wajahnya terkesan kaku dan dingin. Begitu pula halnya dengan Itang yang lebih sering loyo, frustasi tanpa semangat. Apakah pemuda berpenampilan klemar klemer begini yang bakal dijadikan idola remaja? seharusnya tokoh Andy disuntik dengan serum kejantanan barang beberapa cc agar tampil lebih meyakinkan sebagai lelaki.


~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Februari 1990

Thursday, December 25, 2025

KAMANDAKA, PANGERAN MENYAMAR LUTUNG

 


KAMANDAKA, PANGERAN MENYAMAR LUTUNG, (Berita lawas). Kalau dalam legenda Sunda ada "Lutung Kasarung" yang menceritakan tentang lutung sakti penyamaran dewa yang turun ke bumi, maka dari Jawa Tengah ada dongeng yang sangat mirip, "Kamandaka". Perbedaan pokoknya, yang malih rupa jadi lutung bukanlah dewa melainkan seorang pangeran gagah. 

Dongeng "Kamandaka" ini dituturkan dari mulut ke mulut oleh nenek moyang. Bahkan ada peninggalan-peninggalannya, antara lain sebuah batu gunung sebesar rumah yang di keramatkan di desa Cilongok, Purwokerto. 

Kemudian "Kamandaka" juga menjadi lakon ketoprak yang sangat di gemari masyarakat. Ada satu kebiasaan yang dilakukan oleh rombongan ketoprak keliling, yakni mereka selalu menggelar lakon ini pada malam terakhir, menjelang kepindahan lokasi lain Seusai pergelaran, rombongan pun membongkar tempat pertunjukan yang biasanya di bangun secara darurat di sebuah tanah lapang. 

Kini, "Kamandaka" di filmkan oleh PT. Kanta Indah Film, berdasarkan skenario karangan Abnar Romli. Penyutradaraannya ditangani Atok Suharto yang bekerjasama dengan kamerawan Djarot Bintoro. 

Bintang yang di percaya oleh Produser Pelaksana Herman Dial untuk memerankan Kamandaka adalah Barry Prima. Lawan-lawannya merupakan pemain langganan Kanta seperti Lamting, Yoseph Hungan dan Rudy Wahab. Sedangkan sebagai primadonanya dipasang Gitty Srinita. Ikutan mendukung Lahardo, Yuni Arso, dan Eddy Mathias. Bertindak selaku penata silat adalah Robert Santoso yang biasa mengatur adegan bag big bug sejak sebelum serial "Saur Sepuh".

Barry berperan sebagai Banyakcatra, Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran yang menyamar jadi pengembara bernama Kamandaka. Sampai di Kerajaan Pasirluhur ia tertarik pada kecantikan Putri Ciptarasa. Dengan kesaktiannya, Kamandaka mampu malih rupa lutung yang kemudian menjadi kesayangan sang putri. Percintaan mereka menimbulkan kegegeran di keputren. Apalagi karena Prabu Pasirluhur sudah terlanjur menerima lamaran Prabu Nusakambangan. 

~MF 140/107 TH VIII/9 Nov - 22 Nov 1991

Monday, December 22, 2025

PUTIHNYA DUKA KELABUNYA BAHAGIA, DWI YAN BERMAIN BERSAMA ISTRINYA


PUTIHNYA DUKA KELABUNYA BAHAGIA, DWI YAN BERMAIN BERSAMA ISTRINYA. Pasangan Suami istri (sebelum bercerai) ini semula hanya di kenal sebagai pemain saja. Dwi yan hasil godokan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) muncul pertama kali di layar putih lewat film garapan Chaerul Umam "Keluarga Markum". 

Porsi ini sebenarnya milik Dedy Mizwar yang memerankan Ramadhan dalam "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" part 1. Dwi yan makin melejit setelah mendapat kesempatan dari Slamet Rahardjo membintangi film "Kasmaran" bersama Ida iasha dan Ira Wibowo. 

Sedangkan Eva Rosdiana Dewi sang isteri yang dinikahinya , sejak belasan tahun lalu telah menggeluti dunia akting. Bukan hanya untuk film di bioskop, tapi juga di panggung sandiwara dan layar TVRI. 

Adalah Frank Rorimpandey, sutradara pertama yang memberi kesempatan Eva muncul di layar perak. Bersama Marina Gardena, isteri Rudy Salam yang juga bintang film, Eva membintangi "Mutiara".

Walau Eva telah membintangi belasan film bioskop dan sandiwara teve, namun popularitasnya masih kalah dengan sang suami. "Soalnya peran saya kan biasa-biasa saja! kilah Eva.

Sebenarnya Eva sendiri pernah pegang peran utama dalam film "Medali dari Bukit Selatan" yang di produksinya sendiri. Karena film itu gagal di peredaran, maka gagal pula mengangkat Eva ke jenjang popularitas yang lebih tinggi. 

Kini, pasangan bintang film yang membina kehidupan rumah tangga itu, tidak saja bergulat di depan kamera dan harus tunduk kepada perintah sang sutradara, namun mereka telah memutuskan menjadi produser. 

Mengibarkan bendera perusahaan dengan nama Eka Reksa Daya Film (ERD), Eva mengawali produksi perdananya. "Putihnya Duka Kelabunya Bahagia" yang penyutradaraannya dipercayakan kepada Frank Rorimpandey. 

Pada Produksi Perdananya menurut Eva merupakan produksi kerjasama dengan pihak Pemda Jawa Timur ini, baik Eva maupun Dwi Yan muncul pula sebagai pemain utama. 

Namun setelah film ini, mereka akan lebih berkonsentrasi pada kegiatan produksi saja. Walau sudah berpredikat produser dan akan mencoba lebih konsentrasi pada kegiatan produksi, namun bila ada produser lain yang masih mau memberi kesempatan , kata Dwi yan juga tak akan disia siakan. 

Maksudnya, sambung Eva untuk menjaga persahabatan di antara sesama produser. "Kami ini dulunya kan pemain, masa siih mau nglepasin gitu saja!" tegasnya. 

"Putihnya Duka Kelabunya Bahagia" beredar di surabaya dan kota lain di Jawa Timur mulai 10 November 1989 guna menyambut hari  Pahlawan. 

~MF 88/56/Tahun VI 11-24 Nov 1989

Sunday, December 14, 2025

SUTING NAKALNYA ANAK MUDA (RICKY, NAKALNYA ANAK MUDA)

 


SUTING NAKALNYA ANAK MUDA (RICKY, NAKALNYA ANAK MUDA), Hawa dingin di daerah Lembang menusuk pori-pori kulit. Kabut turun ke lembah, menutup pepohonan atas pegunungan. Kadang gerimis turun sebentar, seperti mengucapkan selamat datang pada semuanya. 

Sebuah Jip warna hijau muncul dari sebuah jalanan desa. Merambat pelan menuju ke sebuah peternakan sapi, lalu berhenti tepat di dekat kandang. Seoran gkakek menghampiri Jip yang berhenti di dekatnya dan berusaha mendekat. Dari dalam Jip muncul dua anak muda laki dan perempuan. Mereka lalu saling mendekat dan bersalaman, berpelukan. 

Anak muda, laki perempuan itu adalah Ricky dan Lita. Sepasang muda mudi yang sedang kasmaran. Padahal orang tua si cewek, Lita tidak menyetujui hubungan mereka. Alasannya, klasik. Lita mau di jodohkan dengan seorang pemuda yagn masih tergolong keluarga ningrat. Ricky sendiri dikenal sangat berandalan, Karuan saja kalau keluarga Lita sangat menentang hubungan mereka. 

Meski nampak 'meremaja' kejadiannya boleh dibilang wajar. Lita minggat dari rumahnya lalu diantar Ricky pacar pilihannya sendiri. Lita lebih senang tinggal di rumah kakek neneknya di sebuah desa yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota Bandung yang mulai tidak sejuk lagi. Disanalah Lita menumpahkan segala perasaannya. menghabiskan air matanya. Lita membutuhkan sosok orang tua yang mengerti anak muda. Tak heran kalau kakek neneknya jadi tumpuan segalanya. 

Ini sekedar cukilan cerita 'Nakalnya Anak Muda' yang sedang di lakukan suting di Bandung dan di Lembang akhir Januari 1990. Nampaknya PT. Andalas kencana Film hendak menghidangkan film-film bertema remaja. begit film Si Roy beredar di pasaran, Produser PT. Andalas Kencana Film buru-buru menyiapkan satu film lagi bertema remaja. 

"Nakalnya Anak Muda" diangkat dari cerita dan skenario karya Marwan Alkatiry. Di Bintangi oleh anak-anak muda seperti Ryan Hidayat, Nike Ardilla, Agyl Shahriar, Fortunella dan beberapa pemain remaja lainnya. Film ini juga didukung bintang-bintang senior seperti Rachmat Hidayat, Frans Tumbuan, Nani Wijaya, dan Ida Kusumah. 

Nampaknya Achiel Nasrun sang sutradara membuat cerita ini agak berbeda dari film remaja yang sudah-sudah. Permasalahan yang diangkat bukan sekedar problematika para remaja saja. Konflik-konflik antara anak dan orang tua menjadi penting dalam film ini. Juga sisi lain 'kenakalan orang tua' jelas-jelas di beberkan. 

Selain masalah cinta antara muda mudi, istilah Kerakesot (Kenakalan remaja, kesalahan orang tua)merupakan sisi lain yang ikut diangkat. Seperti seorang ibu rumah tangga  yang sibuk dengan seminar-seminar tentang kenakalan anak muda pada kenyataannya, beliau, sang ibu itu nggak becus ngurus anaknya sendiri. Juga tokoh seorang ayah yang berani main serong dengan sekretarisnya dan dihadapan putranya sang ayah ketahuan sedang asyik berpelukan dengan kekasih gelapnya. 

Masalah percintaan muda mudi itu lumrah. Konflik antara anak dan orang tua, itu wajar. Kenakalan anak muda seperti berantem, kebut kebutan dan keisengan yang lain, sering kita lihat. Tapi apakah kenakalan dan keberandalan orang tua boleh kita bilang wajar?

Ricky (Ryan Hidayat) anak muda yang mewakili generasinya. Dulu ia anak yang  baik. Suatu saat ia menyaksikan pacarnya terhempas dari udara, karena payung di punggungnya tidak mengembang. Tak heran ia mengalami shock berat. Di tambah setelah kejadian itu ia melihat ayahnya sedang asyik bercumbu dengan wanita lain. Sedang ibunya, tak pernah ada di rumah karena kesibukannya. 

Tapi sebenarnya kenakalan Ricky di sebabkan karena keisengan orang tuanya? Benarkah? masalah perjodohan anak masih terjadi dalam masyarakat yang sudah modern. Benarkah antara anak dan orang tua terdapat jurang pemisah yang lebar dan dalam?


~MF

Monday, December 8, 2025

FILM "KEPUASAN" , Problema Kepuasan Suami Istri


 "KEPUASAN" Problema Kepuasan Suami Istri. Bencana terbesar dalam kehidupan umat manusia terletak di ranjang perkawinan. Bukan tokoh sembarangan yang mengukirkan pendapat ini. Beliau adalah Rabindranath Tagore (1861-1941), filsuf, penyair dan ahli mistik legendaris dari Bengali, pemenang hadiah Nobel Sastra pada tahun 1913. Pandangan hidupnya dituangkan antara lain dalam Sadhana, Citra dan Gitanyali yang sangat masyhur. Bahkan syairnya Janaganamana kemudian resmi sebagai lagu kebangsaan India. 

Salah satu ujarnya tentang kehidupan perkawinan bisa di simpulkan dari kutipan diatas. Dan aktor kawakan Piet Burnama menjabarkannya menjasi sebuah cerita skenario untuk film yang di produksi PT. Andalas Kencana Film . Sutradara Acok Rachman, memasang bintang yang pernah tersohor sebagai bomseks, Yurike Prastica, sebagai tokoh Aida, isteri yang tak mendapat kepuasan seks dari suaminya , Mario yang diperankan oleh Sony Dewantara. 

"Ceritanya, Aida adalah seorag janda muda, dari suaminya yang pertama ia cukup mendapatkan kepuasan lahir batin. Setelah menjanda Aida menjalin hubungan baru dengan pemuda Mario yang berasal dari keluarga kaya. Semula ayah-ibu Mario (diperankan oleh Bombom Gumbira dan Rina Hassim) kurang setuju anak mereka memilih seorang janda. Apalagi ibu sudah punya calon menantu pilihan, Windy. Tapi cinta Mario sedemikian besar, hingga ia tetap menikahi Aida".

Sesudah menjadi suami istri barulah Aida menyadari kalau Mario memiliki kelemahan seks, sangat berbeda dengan suami pertamanya. Ia tak pernah mendapatkan kepuasan di atas ranjang. Mario juga bukannya tak menyadari kelemahannya. 

Lalu bagaiman? cerai bukanlah satu-satunya solusi bagi suami isteri yagn menghadapi kemacetan dalam masalah kepuasan seks," jawab Madhu Mahtani produser film yang banyak memetik ilham dari rubrik-rubrik tanya jawab seks di berbagai media termasuk yang diasuh pakar terkenal Dr. Naek L Tobing. 

Maka Aida dan Mario mencoba mencari jalan keluar dengan meminta saran dari penasihat perkawinan dan psikiater. Berbagai cara termasuk variasi hubungan seks dianjurkan. "Untuk menarik minat penonton, adegan-adegan tersebut di visualisasikan tapi tentu saja dengan secara artistik jauh dari vulgar," kata sutradara Acok Rachman. 

Memang visualisasi adegan tersebut bisa menjadi daya tarik. Sebagaian beesar suting berlokasi di Jakarta, serta untuk pengambilan beberapa adegan outdoor di lakukan di pantai Carita , Jawa Barat (sekarang banten). 


~MF 216/182/THXI 24 Sept - 7 Okt 1994

Sunday, December 7, 2025

RINI TOMBOY, POTRET REMAJA METROPOLITAN


RINI TOMBOY adalah karya debut penyutradaraan Noto Bagaskoro yang sebelumnya sebagai asisten sutradara. Rini Tomboy skenarionya di tulis oleh Jujur Prananto berdasarkan serial sandiwara radio populer karya Johan Kalayan. Lagunya di gubah Areng Widodo dan dinyanyikan rocker Achmad Albar. 

Versi filmnya tokoh utama Rini diperankan oleh Cornelia Agatha Dahlia pemain dari serial sinetron RCTI "Dunia Dara"yang rambutnya di pangkas pendek dan bergaya trampil. 

Lawan mainnya Aktor Terbaik FFI 1990 Tio Pakusadewo sebagai Samil yang bersama Adjie Massaid (Doddy) harus kembali mengenakan seragam SMA serta bintang remaja manis Nunu Datau sebagai si centil manis,   Serta di bantu wajah-wajah baru si hitam manis Ninette Maritya sebagai Nita Siswi gedongan yang mahir balet. Handi lifat sebgai Jimmy anak pengelola Bajai yang pacaran dengan Nita, Bintang Clik Sheren Regina Dau sebagai Adik Nita, serta bintang tamu Titi DJ sebagai dirinya sndiri menyanyikan dua buah lagu. Plus pemain-pemain lainnya, Hendri Hendarto, Arman Efendy sebagai ayah Samil, Louis Nikijuluw sebagai ayah Rini, Ida Sumange sebagai ibu tiri Rini, Ronny M. Toha sebagai Manager Hotel  lalu ada ibu kandung Dian Nitami ikutan muncul jadi ibu Nita.

Adegan-adegan yang menggambarkan keceriaan dunia remaja, khususnya elite ibukota, berhasil di suguhkan dengan gambar-gambar manis. Namun disana sini terselip pula adegan dari kalangan bawah seperti bocah-bocah penjual koran yang jadi sahabat Rini. 

Secara keseluruhan film ini digarap dengan cukup menarik, kendati tempo film beberapa kali terabaikan. Seperti misalnya pada adegan perburuan yang berlangsung antara Rini dengan kawanan Samil di stasiun kereta api kosong terasa berkepanjangan. Begitu pula halnya saat Rini an Samil uber-uberan dari tangga ke tangga sampai ke atap hotel terasa di ulur untuk menantikan kedatangan ayah samil dan yang lain-lainnya. 

Film diawali dengan kejutan adegan pertarungan ninja. Penonton bisa mengira salah nonton film hongkong. Padahal memang benar, Rini yang beraksi menumpas ninja pembunuh kawan-kawannya di perkemahan. Tapi cuma dalam mimpi kok!.


Rini si gadis tomboy adalah bintang SMA 2000. Bersama kawan-kawannya, Doddy, Jimmy dan Susan ia merencanakan piknik ke Yogya. Ikut bergabung Nita dari SMA 2001. Ternyata Jimmy dan Nita saling menyukai. Namun hubungan mereka memercikan api permusuhan dengan kelompok beran dal SMA 2001 yang dipimpin Samil. Pasalnya Cinta Samil pada Nita ditolak mentah-mentah. Samil dan kawan-kawannya mengero yok Jimmy sampai b a b a k  b e l u r, Rini yang menguasai karate membalah mengha jar Samil. 

Kekalahan ini membuat Samil Frustasi. Di rumah ia merasa selalu di tekan oleh ayahnya yang hendak mengirimnya bersekolah ke Jepang. Diam-diam Samil membeli senjataapi dari kawanan bandit. Padahal Rini pernah datang kerumah Samil, mengaku sebagai pacar Samil pada ayah dan ibu Samil. Bahkan ayah Samil sempat cemas, jangan-jangan gadis tomboy ini hendak mengadu telah di hamili anaknya. 

Konflik memuncak tepat pada pesta ultah Nita. Saat semua kawan datang kerumah Nita, ditengah jalan Rini di cegat kawanan Samil. Todo ngan pistol membuat Rini tak berdaya. Dalam keadaan terbius Rini dibawa ke hotel. Niatnya ingin di per k o s a. Tapi Rini keburu sadar dan balik melabrak mereka. 

Klimaks berlangsung diatap hotel. Saat Samil menyandera Rini dengan pistol, disaksikan ayah, ibu dan semua kawan. Samil menyerukan pemberonta kan atas sikap otoriter sang ayah. P i s t o l meletus peluru menyambar Rini bersimbah darah. bagaimana akhirnya? sudah pada nonton kan?


~MF 167/134/THIX 28 Nov-11 Des 1992

Thursday, December 4, 2025

JAMPANG, SI JAGO BETAWI


 JAMPANG, Jago dulu, kumis melintang dada berbulu..." itu sebait lagu Gambang Kromong yang dipopulerkan oleh Benyamin S. Pada dekade awal 1970an dulu, cerita tentang jawara Betawi ini sudah pernah difilmkan . Antara lain di perankan oleh WD Mochtar dan Soekarno M. Noor. 

Tahun 1990 dibuat ulang berdasar cerita karangan Zaidin Wahab yang dicergamkan oleh Ganes TH (sebanyak 10 jilid). Namn berbeda dengan gambaran Jampang dalam film-film dulu atau komiknya, maka Jampang yagn diperankan oleh Barry Prima ini berwajah klimis, tanpa kumis yang tebal melintang. 

Menurut Produser Pelaksana , Herman Dial, semula di coba memakai kumis palsu, namun Barry merasa kegatelan hidungnya hingga tak bisa leluasa berakting. "Tidak apa-apa, Jampang versi saya jadi jawara yang klimis," kilah sang sutradara M. Abnar Romli. 

Di dukung oleh pemain-pemain langganan PT. Kanta Indah Film seperti Joseph Hungan, Christy Arnie Kasidi, Rudy Wahab, Hasan Dolar, Nina Karina dan bayak lagi lainnya. Film ini dibuat menjadi dua episode berurutan. 

Film diawali dengan perampokan terhadap Haji Manong yang baru pulang dari menjual kerbau. Untung muncul si Jampang yang sekali gebrak melontarkan dua perampok ke kali. Ternyata Jampang masih sekampung dengan Haji Manong. 

Dulu ia pegi merantau ke Betawi. Kekerasan hidup  membuat Jampang sempat mendekam di bui. Justru di sini Jampang di gembleng oleh si Banteng, muridsi Pitung. Keluar bui , Jampang berniat mengamalkan ilmunya untuk membela diri kaum tertindas

Sekarang Jampang mondok di rumah H. Manong.Ia tertarik pada Sari, bunga kampung, putri H. Jole. Saingan beratnya Mandor Jun yang telengas. Dalam bentrokan, jampang membabat tangan si mandor sampai kutung. Akibatnya ia diburu kompeni.

Jampang bersembunyi di rumah Pak Jiung. Malang bagi pak Jiung, bersama purinya, Rabiah , dibunuh oleh inspektur Frans. Jampang membalas dendam kematian Frans. Kematian Frans membalas membuat Kapiten Simon naik pitam. Diangkatlah Ibnu, jawara muda dari Banten, menjadi inspektur. Tugasnya membekuk Jampang hidup atau mati. 

Duel seru antara Jampang dan lawan Ibnu yang kepal senjata berlangsung pada klimaks film. Jampang nyaris putus asa melewan Ibnu yang kedot. Padahal sebenarnya Ibnu juga merupakan anak Haji Raibun, sama seperti si Jampang cuma beda ibu saja. 


Wednesday, December 3, 2025

ANGLINGDARMA 3, FENDY DAN BARRY BEREBUT PORSI NAMA

 


Tercatat dalam sejarah perfilman nasional, film silat Indonesia pertama yang berbahasa Jawa keseluruhannya adalah Balada Cinta Anglingdarma (1990) yang di perani oleh Baron Hermanto sebagai Prabu Anglingdarma. 

Film yang diangkat dari cerita ketoprak dan komik itu cukup sukses saat di rilis di Jawa Tengah namun di Jakarta (beredar versi bahasa Indonesianya) ternyata kurang mendapat sambutan. Toh produsernya tetap melanjutkan Anglingdarma 2 Batik Madrim Mbalelo (Pemberontakan Batik Madrim) dan uniknya peran sang Prabu dialihkan ke Barry Prima sebaliknya Baron jadi si pengkhianat Patih Batik Madrim. 

Selanjutnya PT. Elang Perkasa Film memproduksi Anglingdarma 3 dengan sutradara S.A Karim dan kamerawan Suryo Susanto. Lewat film inilah untuk pertama kalinya di pertemukan tiga bintang film silat terkenal, Barry Prima, Fendy Pradana dan Murtisaridew. Masih ditambah lagi dengan Baron Hermanto, Erna Santoso, Eddy S Yonathan, Rendy Recky, Yacob Essad, dan pelawak Kampret (dari ketoprak Mataram) sebagai si Klungsur punakawan setia. 

Tokoh Prabu Anglingdarma di lanjutkan perannya oleh Barry Prima, lalu Fendy Pradana sebagai putra mahkota Kerajaan Malawapati, Pangeran Angling Kusumo. 

Suting yagn antara lain berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah berjalan lancar. Murti Saridewi yang namanya terangkat sejak berperan sebagai Lasmini si pendekar genit dalam serial Saur Sepuh, kini berperan sebagai pendekar wanita Srenggono Retno yagn sensual dengan gigi gingsulnya. 

Kalau dalam film, Fendy dan Bari sebagai anak dan ayah yang terpaksa bertarung adu kesaktian untuk menguji kesatriaan, adalah seusai suting timbul probema. 

Gara-gara terjad saat penggarapan poster (istilah filmnya one-sheet) dan still-photo (nama sebenarnya window-sheet) yang kelak di pajang di etalase (lemari kaca) di lobi lobi bioskop. Pendesain poster Rizal Alferthinus seperti biasa memasang nama Barry Prima diatas sedangkan Fendy Pradana di tempat ketiga di bawah nama Murti Saridewi. 

Demi melihat hal sini, Fendy merasa kurang nyaman. Ia memprotes, menuntut namanya di letakkan paling atas. Terpaksa produser harus menetak khusus namanya untuk di lekatkan pada still-photo yang sudah jadi. 

Masalah pemasangan nama ini sering jadi problem terutama di Amerika. Misalnya pada poster The Firm, Tom Cruise tak menyukai nama Gene Hackman di pasang sejajar sama tinggi dan sama besar dengan namanya. Tapi Hackman juga emoh namanya di pasang di bawah. "daripada begitu lebih baik tak usah pasang nama saya sajalah", itulah yang terjadi nama Hackman tak ada di poster The Firm. 

Bahkan sutradara Teguh Karya pernah merelakan nama-nama pemeran utamanya, Rachmat Hidayat dan Tuti Indra Malaon dipasang kecil-kecil di bawah nama para pemeran pembantu, Onky Alexander, Nurul Arifin, Ayu Azhari dan Didi Petet pada Pacar Ketinggalan Kereta. 


~MF 216/182/THXI 24 Sept - 7 Okt 1994


Monday, November 24, 2025

KUBERIKAN SEGALANYA


 KUBERIKAN SEGALANYA, Sayangnya Nihayah Abubakar tak mengisi suaranya sendiri sehingga kehilangan kans meraih Citra Aktris Terbaik meski dengan akting yang prima. 

Film Kuberikan segalanya mengingatkan pada "My Left Foot" (1989) yang membuahkan Piala Oscar Aktor Terbaik untuk Daniel Day Lewis lewat peran penulis yang lumpuh sejak di lahirkan. Bagaimana dengan Kuberikan Segalanya? pada FFI 1992 meraih 10 unggulan. 

Nihayah Abubakar, pemeran Anisah yang memang cacat tuna lengan, tak mengisi suaranya sendiri sehingga kehilangan kesempatan untuk masuk unggulan aktris terbaik. Tokh aktingnya sebagai pemula cukup menarik. Rasanya penonton pasti terharu melihat adegan ia mengiris-iris kacang panjang dengan pisau yang di jepit di jari kakinya, atau ketrampilannya menggunting kain, atau bagaiman ia menyuapkan mie, semua dilakukan dengan kaki yang menggantikan fungsi tangan. Patutlah padanya di berikan penghargaan khusus. 

Untungnya Sutradara Galeb Husin tak tergelincir menggarap karya keduanya menjadi melodrama yang mengeksploitir cacat nihaya. Disana sini malah ditaburkan suasanya riang, khususnya pada setiap pemunculan Deddy Mizwar yang berperan sebagai Adam, si seniman komplit tengah berusaha mengubah lagu baru tapi disebutkan pernah juga menyutradarai film sukses, meskipun rumah dan sosoknya sangat bersahaja. 

Deddy Mizwar yang tercatat tampil dalam 5 dari 11 film pilihan, memang hampir selalu  bermain menarik. Kehadirannya walau cuma jadi pemeran pembantu membawa suasana segar yang memancing tawa. Justru pemeran utamanya Rano Karno dan Paramitha Rusady yang memerankan kakan beradik , Faisal dan Fitri berada dibawah kadar permainan mereka. 

Problema bagi tokoh Faisal termasuk putusnya hubungan dengan pacarnya Maruti (Clara Sinta), serta penipuan yang dilakukan Jaka (Anwar Fuady) tak berakhir tuntas. Apa sebenarnya pekerjaan Faisal tak jelas, cum setelah kena tipu yang menghabiskan seluruh uangnya nampak ia menyopir mikrolet. Si Penipu Jaka, raib begitu saja. Sedangkan Maruti sekilah terlihat saat Faisal diwisuda,namun mereka tak rujuk kembali. 

Adapun problema Fitri malah terasa sangat di paksakan. Cemas hubungannya dengan Erwin (Gito Gilas) bakal putus kalau Erwin melihat kakaknya. Fitri melarang Anisah keluar dari kamarnya. Aneh, sikap egois yang ditonjolkan Fitri terasa dadakan karena awalnya nampak ia begitu manis dan menyayangi kakaknya. Jadinya sangat tidak klop ketika tiba-tiba ia memaki-maki Anisah dengan kasar.  Adegan yang mestinya mengharukan ini berbalik jadi bumerang yang mengurangi mutu.

Adalagi tokoh dan problema yang hilang begitu saja dari konteks cerita. Yang dimaksud adalah kelompok pengemis yagn dikoordinir oleh Pak jalu (Him Damsyik). Setelah anak buahnya beralih menjadi penjaja makanan berkat bimbingan Anisah sempat Pak jalu marah-marah tapi tak berkelanjutan konflik langsung dengan Anisah. 

Pada penutup terlihat Nihayah dan gadis cilik yang disayanginya berjalan berdua menuju Monas sebagai simbolik kisah hidupnya belum berakhir. Atau bisa juga berabrti kelak akan di produksi sequel berikutnya?


~MF 167/134/THIV 28 Nov - 11 Des 1992

Friday, November 14, 2025

TITIK TITIK NODA


 FILM TITIK TITIK NODA, Andi (Harry Capri) termasuk seorang pemuda tampan. Dengan modal ini ia berhasil menggaet beberapa orang gadis. Diantaranya adalah Tini (Meriam Bellina), gadis pembantu rumah tangga di mana tempat kostnya. Juga ia berhasil menggaet Helen (Chintami Atmanegara), putri kesayangan Pak Suryo, pimpinan perusahaan dimana ia bekerja. Juga beberapa gadis lainnya yang pernah di jumpainya di tempat-tempat hiburan. 

Sebenarnya Tini yang termasuk bibit unggul dalam keluarga ibu Murni (Ida Kusumah) tempat Andi kost, telah di rencanakan oleh Ibu Murni sendiri bila tiba waktunya untuk menjual kehormatan Tini kepada lelaki yang berani membayar mahal. Namun Andi telah mendahuluinya tanpa sepengetahuannya. 

Hasil hubungan intim antara Tini ini membuahkan janin bayi di kandungan Tini. Setelah mengetahui hal ini, Andi segera angkat kaki dari tempat kost bu Murni dan mencari tempat kost yang baru untuk bersembunyi. 

Tini yang panik setelah mengetahui kalau Andi telah minggat suatu ketika tergelincir dari tangga di tempat kost dan menyebabkan keguguran. Kejadian ini sempat di ketahui oleh Ibu Murni yang tentunya menjadi gusar. Setelah ia mendapatkan penjelasan dari Tini, segera ia menyuruh para tukang pukulnya untuk mencari Andi. 

Helen meminta persetujuan ayahnya agar di perbolehkan menikah dengan Andi, Pak Suryo yang telah mengetahui kebejatan moral Andi tentu saja menolaknya. Namun Helen yang telah mencintai Andi dengan sepenuh hati  menjadi nekad. ia mengancam ayahnya dengan berbagai cara. Akhirnya mau tak mau pak Suryo terpaksa menyetujui juga. Maka di tentukanlah hari baik untuk melaksanakan pernikahan Andi dan Helen. 

Betapa bahagianya kedua calon mempelai ini namun di balik semua itu Tini Ibu Murni beserta tukang pukulnya dan juga beberapa gadis yang dulu pernah menjadi korban Andi berusaha terus mencari Andi.  Mereka akan menuntut dan meminta pertanggungjawaban dari Andi. 

Dan tentu saja perbuatan nista lambat laun pasti akan terungkap juga. Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh Andi selama ini. 

Titik Titik Noda di sutradarai oleh Hengky Solaiman yang pernah sukses dengan film Tali Merah Perkawinan, Tandes Sorga Dunia dipintu Neraka. 


~RF 529

Monday, November 10, 2025

PANJI TENGKORAK VS JAKA UMBARAN


 PANJI TENGKORAK VS JAKA UMBARAN. Panji Tengkorak dan jaka Umbaran merupakan dua pahlawan dan pembela kaum tertindas. Namanya di puja masyarakat banyak dan melekat di hati mereka termasuk golongan aliran putih. Namun tentunya menjadi pertanyaan mengapa mereka sama-sama dari golongan aliran putih harus berhantam-hantaman mengeluarkan kepandaiannya masing-masing. 

Golongan aliran hitam yang di ketuai oleh Sumo dan dua saudara seperguruan bernama Burai dan Darbo ingin menguasai dunia persilatan .  Mereka mempunyai keyakinan kalau usaha mereka ini akan berhasil, lebih-lebih lagi guru mereka yang bernama Braja (Dadang Iskandar) terkenal sakti mandraguna bertabiat buruk dan culas. 

Dalam menjalankan rencananya, Sumo cs menculik Sari (Siska Widowaty) untuk memancing kemarahan Jaka Umbaran (Teddy Purba) terhadap Panji Tengkorak (Deddy Sutomo). Mengapa Demikian? Karena Burai yang melakukan penculikan itu dengan menyamar sebaga Panji Tengkorak. Rupanya mereka menjalankan taktik adu domba. 

Sumo juga berniat melenyapkan Dhenok (Siska WIdowaty) - (yang berperan ganda dalam film ini), yang selama ini merupakan musuh bebuyutannya. Dalam pada itu Jaka Umbaran mendengar kalau Sari di culik oleh Panji Tengkorak, segera bermaksud mencarinya. Panji Tengkorak untuk mengadakan perhitungan. Kedua jago itu bertemu dan sempat terjadi bentrokan, namun Panji Tengkorak yang merasa dirinya tidak bersalah tidak mau melayani Jaka Umbaran yang sedang emosi itu. Ia berusaha menghindar . Dengan nalurinya yang tajam, Panji Tengkorak menyadari kalau semua ini adalah fitnah yang dilakukan oleh Sumo cs. 

Sari yang di sekap oleh Burai dan Darbo di sebuah goa tersembunyi berhasil di selamatkan oleh Mariani (Enny Beatrice) yang sebelumnya telah berhasil  melumpuhkan dua penjaga itu. Sumo sang dalang datang terlambat menjadi gusar mendengar laporan tersebut. 

Di lain pihak guru Dhenok (Connie Sutedja) telah mengetahui siapa sebenarnya orang-orang yang melakukan penculikan terhadap Sari dan yang memfitnah Panji Tengkorak. Ketika kembali dari sana, Panji Tengkorak bertemu kembali dengan Jaka Umbaran, untuk keduak kalinya terjadi bentrokan diantara mereka. Melihat kesungguhan Jaka Umbaran yang memang benar-benar ingin menghabisi Panji Tengkorak, membuat Panji Tengkorak akhirnya melayani juga. Dan pertarungan mereka memakan waktu yang amat panjang. Jika hari telah gelap dan pertarungan belum selesai dimana belum ada salah satu yang berhasil di lumpuhkan, maka pertarungan di tunda hingga esok hari untuk dilanjutkan kembali. 

Berhari-hari pertarungan  diantara mereka ini berlangsung, namun tidak ada satupun yang kalah ataupun mengalah. Suatu ketika pertarungan mereka ini terhenti sejenak karena kehadiran Dhenik yang berusaha melerai. Dhenok memberitahukan Jaka Umbaran , Panji Tengkorak tidak bersalah. 

Dan pada saat itu muncul pula Braja dan Sumo. Pertarungan diantara mereka tak dapat dihindarkan lagi. Dhenok maju melawan Braja, sementara Panji Tengkorak terlibat pertarungan dengan Sumo, Mariani dan Sari yang juga muncul tentunya turut membantu. Dalam keadaan yang kritis Ki Pragola datang dan melemparkan tongkatnya yang sakti itu kearah Braja. Jaka yang melihat hal itu tanpa ayal lagi langsung menghabisi nyawa Braja. Braja pun mengemui ajalnya, begitu pula dengan Sumo yang tak berdaya di tangan Dhenok, keduanya tewas. 

Film ini di sutradarai M Sharieffudin A. 


~RF 524~

Wednesday, November 5, 2025

JUNAEDI SALAT

 


JUNAEDI SALAT. Nama Junaedi Salat kita kenal berkat penampilannya yang cukup bagus alam film "Ali Topan Anak Jalanan" (1977), ceritanya berdasarkan novel pop berjudul sama karya Teguh Esha. Tapi sebelumnya, tahun 1972 Jun sudah pernah main film dalam "Aku Tak Berdosa" bersama Dewi Puspa dan Fifi Young. Film produksi Empat Gajah Film ini merupakan film perdana Junaedi. 

Kemudian pada tahun 1981 ia membintangi film berjudul "Fajar Yang Kelabu" yang dibintangi oleh Roy Marten, Astri Ivo , Debby Cintya Dewi dan lain-lain. Selain dalam film, Junaedi juga bermain di dunia musik. Album perdananya mencuat pada tahun 1981 berjudul "Burung Camar", disini ia dibantu oleh Oetje Hoedioro, kemudian album kedua berlabel "Masa Pancaroba", Ronny Harahap, Chandra Darusman, dan Odhink Nasution turut mendukung Jun dalam merampungkan album tersebut. 

Pada tahun 1977, Jun untuk pertama kalinya ikut berkompetisi dalam Lomba Cipta Lagu Remaja dan hasilnya juara I untuk lagunya yang berjudul "Kemelut". Setelah keberhasilan itulah Junaedi yang panggilan akrabnya Jun bergabung dengan Guruh Sukarno Putra. Saat itu belum ada kelompok "Swara Mahardika. Dan bersama putra presiden Pertama RI itu ia menggarap ilustrasi musik film "Ali Topan Anak Jalanan", mereka di bantu seorang musisi dari Jepang. 

Barulah pada tahun 1978 ia bersama Guruh membentuk kelompok Swara Mahardhika. Jun melatih musiknya, Guruh koreographynya. Dan untuk pertama kalinya ia manggung di Balai Sidang Jakarta dengan nama pagelaran "Karya Cipta Soekarno Putra" dan sejak penampilan itulah, Junaedi mengundurkan diri.


~RF 474