BERNAPAS DALAM LUMPUR, WATUNAS TIGA NAMA (kisah lawas), Kisah seorang watunas (wanita tuna susila) yang dicintai seorang pemuda kaya raya tak ubahnya dongeng modern yang mengingatkan pada sukses "Pretty Woman". Namun 20 tahun sebelum film Hollywood itu tiba disini, Turino Djunaidy sudah bikin "Bernapas Dalam Lumpur". Walau begitu tak urung dalam re-make ini, kemasukan juga unsur "PW".
Alkisah, menjelang datang kereuni kampusnya, Budiman bingung. Pasalnya, siapa yang datang tanpa pasangan di denda sejuta rupiah. Padahal, ia memang belum punya pacar karena sifat pemalunya.
Kebetulan di jalan mobilnya di cegat wanita penghibur, Mira yang sedang mencari taksi. Timbul pikiran untuk minta Mira pura-pura jadi pacarnya. bahkan iapun memberi nama baru , Yanti. Mira oke-oke saja karena dijanjikan dibayar tiga ratus ribu.
Hubungan mereka tak putus seusai pesta reuni itu. Budiman jadi langganan tetap, Ia sering datang mengajak Yanti tanpa pernah menidurinya seperti layaknya tamu lain yang membookingnya. Germo Rais mencoba memeras. Penolakan Budiman membuatnya dihajar babak belur.
Terungkap lewat kilas balik asal usul Yanti. Nama aslinya bukan Mira, melainkan Supinah. Datang ke Ibukota, meninggalkan ibu dan anaknya di desa, untuk mencari suaminya., Kartijo, yang tiada kabar beritanya. Malang baginya, ia dperkosa sopir bajaj dan temannya. Ditolong seorang Bapak, tapi diincar anaknya yang remaja, sampai diusir dari rumah. Bertemu suaminya, malah tak mau mengenali, karena sudah kawn lagi. Supinah yang terlunta-lunta jatuh ke tangan germo Rais. Dijadikan Watunas bernama Mira.
Simpati pada nasib malang Supinah berkembang menjadi cinta suci Budiman yang tak peduli segala masa lalunya. Budiman melarikan Yanti dari klab Rais. Membelikannya sebuah rumah lengkap. Bahkan memperkenalkan pada orangtuanya sebagai calon istri.
Tapi Rais tak sudi melepaskan primadonanya begitu saja. Ia berhasil melacak dan terus menteror Yanti. Budiman kehilangan kekasihnya. Dengan bantuan watunas teman lama Mira, ia berusaha mencari. Rupanya Supinah telah pulang kampung, bersimpuh bertobat di depan kubur ibunya.
Bagi yang sudah pernah nonton film Bernapas Dalam Lumpur (1970) mau tak mau pasti membandingannya dengan Bernapas Dalam Lumpur (1991). Khususnya pada pasangan utamanya yang dulu diperankan Suzanna-Rachmat Kartolo dan kini oleh Meriam Bellina -Rano Karno, sedangkan si germo Rais masih tetap dibawakan oleh Farouk Afero.
Harus diakui kalau versi eprtama punya greget lebih berani dibandingkan versi kedua. Contohnya, lihat adegan Suzanna di perkosa kawanan tukang becak brengsek terasa lebih vulgar daripada Mer digagahi si sopir bajaj bejad Salim Bungsu. Porsi adegan ngeseks memang nampak telah sangat dikurangi oleh Turino, mungkin mengingat usianya yang sudah 64 tahun saat menyutradarai kembali.
Kendati Mer sudah mencoba bermain sebagai wanita dengan tiga nama (dan seharusnya tiga perwatakan), si isteri udik Supinah, si watunas norak Mira dan si kekasih Yanti, namun nampaknya tiada perbedaan mencolok pada tiga nama itu.
Kalau Bernapas Dalam Lumpur lama ditutup dengan tragisnya kematian Supinah, tak demikian halnya dengan Bernapas Dalam Lumpur 1991 yang mempertemukan kembali Supinah dengan Budiman. Akan halnya germo Rais cuma dibilang sudah diciduk polisi, tanpa diperlihatkan menerima balasan setimpal atas semua kekejiannya.
Sebenarnya "Bernapas Dalam Lumpur" bisa dibilang sebagai film trilogi, karena ceritanya dilanjutkan dalam film "Kekasih Ibuku dan "Noda Tak Berampun" .




















