FILM SI BADUNG, IDEALNYA PAK GURU DI MATA IMAM TANTOWI, (Film Lawas). Imam Tantowi, sutradara ini ternyata tak cuma mahir bikin film ciat ciat, tapi juga bikin film anak-anak "Si Badung" contohnya. Film yang dibintangi oleh hampir separuh anak-anak ini berkisah tentang murid-murid sebuah sekolah Dasar yang entah kenapa malah lebih berat penekanannya pada obsesi sutradara pada figur seorang guru. Biar begitu, Si Badung tak lantas kehilangan citranya sebagai sebuah film anak-anak. Dan spertinya disinilah letak kelebihan Tantowi sebagai sutradara.
Adalah Pak Djarir (Drs. Purnomo/Mang Udel) seorang guru SD di sebuah desa yagn selalu bersepeda namun memiliki semangat mendidik yagn lebih besar sebagai orang yang "Digugu" dan "ditiru". Dan Tantowi mempertentangkan sosok Pak Djarir tersebut dengan kondisi dan eksistensi guru pada masa sekarang. Di sinilah "Si Badung" menjadi menarik. Apalagi Tantowi kemudian mempertemukan sosok Pak Guru Djarir dengan murid-muridnya yang disatu pihak tampil sebagai murid yang baik, tapi dipihak lain sebagai murid yang Badung. Ini diwakili oleh sosok lima sekawan murid kelas V SD dan dua sekawan Koko dan Dori murid kelas VI yang terkenal Badung.
Sayangnya kebadungan sebagai yang tertera dalam judul film Tantowi ini tak berhasil ditampilkan sebagai akhir cerita Kebadungan koko dan Dori berakhir ditengah jalannya cerita film dan apa boleh buat, menjadi klimaks film ini. Sementara perjalanan film berikutnya sampai kemudian meninggalnya Pak Djarir setelah menghadiri Persami di sekolahnya, menjadi antiklimaks meskipun masih tetap punya daya tarik.
Dengan cerita yang memang memikat dan pola penggarapan yang manis, Si Badung memang tampil sebagai film yang berhasil menyajikan setawar sedingin bagi penonton film anak-anak di neger ini, setelah banyak film yang ditonton anak-anak di bioskop, sebenarnya tak layak untuk konsumsi mereka. Sebab tak cuma obsesi, Tantowi yang dijejalkan di film ini, tapi juga pesan dan dunia kanak-kanak yang digarapnya tak melesat jauh. Pesan Tantowi dalam film ini betapapun cukup jelas. Bahwa kita sebagai murid harus menghormati seorang guru. Bahwa kita sebagai guru haruslah pula tak menjadikan profesi itu sekedar sebuah pekerjaan tapi juga sebuah keyakinan moral untuk mendidik dan bukan cuma mengajar.
Dengan pesan yang seperti ini, Tantowi masih menambahi daya tarik film ini dengan 7 (tujuh) buah lagu khusus untuk anak-anak yang lirik dan lagunya di garap Embie C Noer. Dan lepas dari kekurangan-kekurangan kecil akibat tidak cermatnya Tantowi sebagai sutradara, film ini toh sudah cukup menghibur dan memberi kebahagiaan pada kita. Paling tidak anak-anak Indonesia akan mulai mendapatkan idolanya lagi setelah mereka sesak dijejali oleh film-film untuk anak produksi luar negeri.
Cerita/Skenario : Imam Tantowi dan Embie C Noer
Sutradara : Imam Tantowi
Kameramen : Tjutju Sutedjo
Editor : Janis Badar
Musik : Embie C Noer
Pemain : Rully Djohan, Drs. Poernomo, Mien Brodjo, Nelson Sondakh, Viona Rosalina, Sheren Regina Dau dll.

No comments:
Post a Comment