Showing posts with label Maman Firmansyah. Show all posts
Showing posts with label Maman Firmansyah. Show all posts

Monday, March 2, 2026

MUSNAHKAN ILMU SANTET, SUTRADARA H. MAMAN FIRMANSYAH


SUTING FILM MUSNAHKAN ILMU SANTET, SUTRADARA H.  MAMAN FIRMANSYAH, H. Maman Firmansyah sutradara yang telah menyelesaikan belasan film cerita, ketika akan suting adegan pertama film "Musnahkan Ilmu Santet" yang berlokasi di tempat pemakaman umum (TPU) Jeruk Purut Jaksel, mengadakan upacara selamatan, doa bersama dengan para karyawan, bintang pendukung dan produser yang hadir di lokasi. 

Selesai pembacaan doa bersama, lalu menaburkan bunga ke kamera yang di pergunakan suting. Takut di ganggu setan kuburan? "Tidak! Tuhan lebih berkuasa!" jawabnya tegas. Cuma, lanjutnya ini sebagai prasyarat belaka. 

Memang seperti yang diharapkan, suting hari pertama berjalan lancar, hasil rekaman kamera yang dibidikkan H. Asmawi, juru kamera yang telah lama ngendon di PT. Rapi Film cukup memuaskan. 

Lokasi suting film yang idbintangi : Joice Erna, Rudy Salam, Dorman Borisman, Mandra, Bokir, dan Hengky Tornando itu tidak hanya di Jakarta dan Ciseeng studionya Rapi Film. Tapi juga di Semarang dan Ungaran, Jawa Tengah. 

Di Ungaran, sebuah kota kecil sekitar 30 km arah selatan kota Semarang, lokasi sutingnya di sebuah rumah kuno, milik kol Soemarno. Rumah besar dengan luas kurang lebih 900m2 bekas milik penguasa perkebunan Belanda yang konon di bangun sekitar tahun 1900an, Maman dan kerabat kerjanya berkreasi. 

Sebelum suting biasanya Maman dan seluruh karyawan yang terlibat produksi sibuk mempersiapkan suting. Ha Maman bersama Sonu, sibuk diskusi untuk adegan-adegan yang akan di sut. Asmawi mengatur posisi kamera dan anak buahnya (Juru lampu) sibuk menempatkan lampu-lampu di atas bangunan. 

Yang juga tak kalah sibuknya Hendro, bagian artistik, bersama rekan-rekannya ia mempersiapkan sebuah kaca ukuran 3x4 meter ang akan dipergunakan untuk trick. (Glass shot)

Sementara itu masyarakat yang mau nonotn suting berjubel di halaman yang cukup luas. "Kemarin malam banyak yang sampai pagi", jelas Priyadi pimpinan produksinya. Memang lanjutnya adegan disini semua adegan malam. Suting kadang sampai pukul 04.00 pagi. "Untungnya yang punya rumah baik sekali", tambahnya memuji.

"Daripada Kosong, sepi, kalau hanya untuk suting film, boleh-boleh saja. Saya justru senang. Bisa nonton caranya orang bikin film. Selama ini cuma nonton filmnya saja. NGgak pernah tahu bagaimana bikinnya!", tukas Kol Soemarno, perwira AD yang pernah mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk menangani pembangunan kembali Keraton Surakarta itu. 

Selama ada suting , lanjutnya, isteri dan anak-anak, kadang juga begadang sampai pagi.," Bukan curiga tapi justru kami senang, " tegasnya. 

Bukan hanya keluarga Soemarno saja yang senang nonton suting. Masyarakat di sekitar tetangga-tetangganya, juga senang. Halaman yang cukup luas itu, kadang sampai penuh sesak pengunjung. Hari pertama semua tertib. Tapi pada hari kedua, tangan-tangan usil mulai beraksi. Tape mobil milik kru film digerayangi dan lenyap. "Mungkin karena polisinya juga ikut asyik nonton suting, " kilahnya. 

Tengang uang sewa rumahnya Soemarno tak mau berterus terang. "Saya tidak mau mengkomersilkan rumah saya untuk suting film. Kalau memang tertarik buat suting silahkan. Yang penting kita saling bisa menjaga. Kalaupun akan dikasih uang, sekedar untuk perbaikan kecil. Misalnya bekas yang di paku-paku, ya saya terima. " Tapi katanya menandaskan, "Saya tidak menentukan jumlah tertentu".

Selain pemain dari Jakarta, suting di Semarang dan Ungaran juga memberikan kesempatan kepada pemain-pemain di daerah itu. Salah satu cewek yang ketiban kesempatan Farida Ariyani. Kenurut keterangan sang sutradara, Ida panggilan akrabnya punya potensi untuk jadi pemain yang baik. Cuma karena diadisemarang, kesempatan itu tidak banyak," kilah Maman. MF No. 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989

Wednesday, May 11, 2016

RICO TAMPATTY & CICHA KOESWOYO DALAM FILM GEJOLAK KAWULA MUDA






JUDUL FILM                        : GEJOLAK  KAWULA MUDA

SUTRADARA                       : MAMAN FIRMANSYAH

CERITA                                  : DEDDY ARMAND

PRODUSER                          : GOPE T SAMTANI

PRODUKSI                           :  PT. RAPI FILM

ILUSTRASI MUSIK            :  GATOT SUDHARTO, NOMO KOESWOYO

TAHUN PRODUKSI           : 1985

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                               : CHICHA KOESWOYO, RICO TAMPATTY, TITI DWIJAYATI, IKANG FAWZI, RIA IRAWAN, SEPTIAN, ZAINAL ABIDIN, ADE IRAWAN, KUSNO SUDJARWADI, PIET BURNAMA

SINOPSIS :

Break dance sedang naik daun. Sekumpulan remaja menghabiskan malam dengan breakdance di jalanan dianggap mengganggu ketertiban umum sehingga ketika polisi datang, dari sekelompok remaja tersebut, Rico (Rico Tampatty) dan Chicha (Chicha Koeswoyo) dan kawan-kawannya ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Mereka di bawa ke kantor polisi untuk di beri penyuluhan tentang breakdance yang mengganggu ketertiban umum tersebut.

Akibat perbuatan para remaja tersebut, polisi juga mengundang para orang tua untuk di beri pengarahan dan penyuluhan. Mengetahui anaknya ditangkap polisi, Ayah Chicha (Zainal Abidin) menjadi marah karena ia sebenarnya menentang anaknya.  Rico dan Chicha adalah sepasang kekasih.

Setelah pertemuan antara orang tua dan anaknya di kantor polisi, ayah Chicha sangat menentang kegiatan Chicha, ia di perlakukan seperti anak kecil yang overprotektif. Sikap ayahnya yang keras tersebut membuat Chicha menjadi down. Ia tidak bersemangat, namun Rico selalu memberinya semangat untuk bangkit pada Chicha. Kegiatan breakdaance yang dilakukan para remaja itu sangat ditentang oleh ayah Chicha.  Ia menganggap tarian tersebut adalah tarian gila.

Untuk membuktikan kalau  apa yang mereka lakukan adalah positif, para remaja tersebut terus berlatih breakdance hingga suatu saat mengadakan pertunjukkan. Meski pada awalnya Chicha dilarang untuk ikut oleh ayahnya namun akhirnya ayah Chicha juga hadir dalam pertunjukkan yang sukses. Ia berubah sikap setelah menyaksikan pertunjukkan breakdance tersebut.

****

Breakdance menjadi sangat terkenal pada pertengahan 80an, Film ini cukup membosankan, apalagi di 11 menit pertama praktis menunjukkan tarian breakdance saja, bahkan secara keseluruhan hampir setengah dari film ini adalah breakdance, dengan dialog yang seperlunya saja. Untuk kalangan remaja breakdance sebenarnya dapat dijadikan sebagai sarana olahraga juga karena membutuhkan gerakan yang lentur.

Thursday, April 28, 2016

RICO TAMPATTY & CHICHA KOESWOYO DALAM FILM "IDOLA REMAJA"







Idola Remaja

JUDUL FILM                        : IDOLA REMAJA

SUTRADARA                       : MAMAN FIRMANSYAH

CERITA                                  : DEDDY ARMAND

PRODUSER                          : GOPE T SAMTANI

PRODUKSI                           :  PT. RAPI FILM

ILUSTRASI MUSIK            :  DODO ZAKARIA

TAHUN PRODUKSI           : 1985

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                               : CHICHA KOESWOYO, RICO TAMPATY, EKKI SOEKARNO, ZAINAL ABIDIN, SOFIA WD

SINOPSIS :

Adegan di buka dengan konser Rico & Group dengan penonton yang sangat membludak dipenuhi oleh anak-anak muda.  Rico adalah penyanyi yang sangat di gandrungi oleh para kawula muda. Ia menjadi idola para remaja. Sebagai seorang idola, Rico menjadi sangat sibuk untuk mengatur jadwal dengan bayaran yang tinggi, hingga suatu saat datanglah dua orang utusan dari sebuah Yayasan Panti Asuhan yang ingin menghadirkan Rico untuk menyanyi dengan biaya gratis, yayasan hanya menyediakan fasilitas saja. Namun sebagai seorang penyanyi yang sedang naik daun, Rico menolaknya dan mengusulkan untuk menghadirkan penyanyi lain yang mau untuk tidak dibayar.

Mendengar maksud kedatangan dua orang dari yayasan panti asuhan Ibunya Rico (Sofia WD) memanggil Rico dan menyuruhnya untuk membantu panti tersebut. Dengan pertimbangan dari ibunya, akhirnya Rico mau menerima tawaran tersebut.

Pada suatu konsernya, Rico di ganggu oleh sekelompok anak muda yang mencoba mengacaukan konsernya. Namun, dengan berbesar hati, Rico menyuruh sekelompok anak muda tersebut untuk naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu. Chicha (Chicha Koeswoyo), Ekki (Ekki Soekarno) dan kawan-kawannya naik kepanggung dan menyanyikan sebuah lagu Tiada Lagi yang Lain.  Sepulang di rumah, Chicha sudah ditunggu ayahnya (Zainal Abidin) yang menganggapnya liar karena selalu pulang kerumah. Chicha adalah korban dari perbuatan kedua orangtuanya yang bercerai. Chicha merasa kesepian karena itulah ia melampiaskannya dengan berhura-hura dan pulang malam.  Chicha hanya butuh kasih sayang.

*****

Selepas mengganggu konser Rico, Chica datang ke tempat Rico. Dengan cueknya ia meminta tanda tangan, begitu selesai langsung pergi. Kecuekan Chicha justru membuat Rico penasaran padanya. Hal ini membuat Chicha dan Rico semakin dekat dan menumbuhkan cinta diantara keduanya. Rico dan Chicha menjadi saling peduli satu sama lain, meski sesekali Chicha cemburu pada penggemar-penggemar Rico.

Kedekatan Chicha dan Rico membawa perubahan pada diri Chicha, ini pula yang dirasakan oleh ayahnya. Chicha menjadi lebih baik.  Namun kedekatan ini tidak diterima oleh Ekki yang diam-diam mencintai Chicha.  Ekki marah, akibat kecemburuannya hingga Rico di setrum saat sedang latihan dan menyebabkan kelumpuhan.  Keadaan ini membuat Rico menjadi rendah diri dan semakin down dibuatnya apalagi ketika sedang konser Rico hanya duduk yang membuat para penonton marah dan melemparinya, meski Chicha dan Ibunya selalu member semangat.  Puncaknya adalah saat ibunya jatuh, Rico berdiri dan menggendong ibunya, saat itulah Rico sembuh dan bisa berdiri kembali.  Rico kembali pada Rico yang dulu, konserpun di lanjutkan, Rico menjadi Idola Remaja.