Showing posts with label Nungki Kusumastuti. Show all posts
Showing posts with label Nungki Kusumastuti. Show all posts

Saturday, May 16, 2026

FILM KETIKA DIA PERGI, MELODRAMA DI PUNCAK BROMO

 


FILM KETIKA DIA PERGI, MELODRAMA DI PUNCAK BROMO,(berita lawas). Secara diam-diam nyaris tanpa publikasi secuilpun usai menggarap Tragedi Bintaro, maka sutradara Buce Malawau masih tetap dengan kamerawan William Samara, juga telah menyelesaikan karya terbaru mereka berjudul"Ketika Dia Pergi", produksi PT. Kanta Indah Film. 

"Para pemain memang bukan bintang-bintang komersial, tapi sengaja kami pilih yang benar-benar pas membawakan perannya, " ujar Buce yagn selalu berpenampilan lugu dan kurang pandai bicara ini. 

Itulah sebabnya persiapan film ini memakan waktu cukup lama, sampai akhirnya Buce berkenan memasang artis yang lebih kondang sebagai penari , Nungky Kusumastuti  sebagai pemeran utama, Nungky berpasangan dengan aktor yang juga lebih dikenal sebagai pemain sinetron televisi, Asrul Zulmi. 

Pendukung-pendukung lainnya adalah R. Mochtar, Afrizal Anoda, Ras Barkah, Bung Saling, Dhalia, Arie Sanjaya dan pemain anak-anak Chika Fransisca. Terus terang semua nama diatas bukanlah nama-nama bintang gemerlapan yang istilah dagangnya bisa dijual. 

Sudah begitu, suting berlokasi bukan di Jakarta, sebagimana sebagian besar film drama Indonesia dibuat, melainnkan di puncak Bromo. "Tepatnya di desa Ngadisari, ya kira-kira sejauh 46 kilometer dari Probolinggo. Perjalangan naik mobil kesana bisa memakan waktu dua jam, " ungkap Buce yagn membawa seluruh pemain dan pekerja filmnya selama dua bulan kesana. 

"Hitung-hitung kami seluruhnya berjumlah 50 orang untuk tempat tinggal disana, tentu saja belum ada villa apalagi hotel seperti misalnya di Puncak, jadi terpaksa kami menyewa 11 rumah penduduk . sewanya murah saja kok, cuma Rp. 200 per rumah per bulan cerita Buce lebih lanjut.

Penata artistik Achmad Abidin mulai bekerja mewujudkan gambaran desa sesuai skenario. Dalam ceritanya, Asrul dan Nungky bermain sebagai suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai dokter, dan mendapatkan tugas kerja disebuah dusun terpencil dipuncak gunung. Konflik antara mereka dengan seorang tokoh dukun tua yang dperankan pemain watak kawakan Raden Mochtar, semakin berkembang manakala dusun tersebut diserang wabah penyakit. 

Inti cerita terasa mirip karya penyutradaraan Ami Priyono, "Dr Siti Pertiwi Turun Ke Desa" yang dibintangi oleh Christine Hakim dulu, atau bagaimana kalau dibandingkan dengan drama serial Dewi Yull "Sartika". 

"Tidak, cerita ini lain, lihat saja nanti ," tukas Buce yang sekarang menyerahkan kerja penyuntingan filmnya ke tangan editor Janis Badar. 

"Yang jelas banyak adegan panorama di puncak Bromo yang sangat menakjubkan!" promosi kamerawan William Samara yang telah bekerja keras menantikan terbitnya sang surya sejak pagi buta dalam udara yang membekukan. sumber : MF 122/90 tahun VII, 2 - 15 Maret 1991


Tuesday, January 10, 2012

AZRUL ZULMI DAN NUNGKI KUSUMASTUTI DALAM FILM " KETIKA DIA PERGI "

Ketika Dia Pergi
JUDUL FILM                        : KETIKA DIA PERGI

SUTRADARA                       : BUCE MALAWAU

CERITA                                  : BUCE MALAWAU

SKENARIO                           : BUCE MALAWAU

MUSIK                                  : IDRIS SARDI

PRODUKSI                           :  PT.  KANTA INDAH FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1990

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                              : ASRUL ZULMI, NUNGKI KUSUMASTUTI, H. RD MOCHTAR, RAS BARKAH, BUNG SALIEM, ARIE SANJAYA, CHIKA FRANSISCA, DHALIA, KAMIL MARVING, AMELIA, AFRIZAL ANODA

SINOPSIS :

Dr. Robert (Asrul Zulmi) di tugaskan di sebuah desa di dataran tinggi Bromo sebuah desa yang masih sangat tradisional dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Sisca (Nungki Kusumastuti)  yang juga seorang dokter ikut serta dengan tugas yang dilakukan oleh suaminya, meski yang ditugaskan sebenarnya adalah suaminya di desa tersebut.  Sisca ingin tinggal beberapa bulan menemani suaminya. Kedatangan mereka di sambut oleh lurah desa tersebut Notorahardjo. Awal kedatangan Robert dikejutkan oleh kedatangan seorang gagu (Afrizal Anoda) yang tidak bisa berbicara. Namun akhirnya dr. Robert memahaminya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Dokter dalam masyarakat tradisional tidaklah popular dibandingkan dengan dukun, sehingga kedatangan dr. Robert harus melalui jalan berliku untuk dapat membuat masyarakat percaya kepada dokter. Dan usaha ini tidak gampang, karena penolakan demi penolakan oleh masyarakat yang lebih mempercayai dukun. Namun tidak demikian dengan Sisca. Sisca berhasil membuat beberapa masyarakat percaya. Salah satunya adalah Ani seorang anak kecil yang dibawa oleh neneknya kerumah Sisca ketika panas tinggi. Sisca juga dipanggil untuk membantu kelahiran seorang warga yang berujung pada kebencian seorang dukun beranak dengannya, karena dianggap sok tahu.

Puncaknya adalah ketika dr. Robert gagal menyembuhkan seorang pasien setelah sebelumnya pasien tersebut ditangani dukun yang berujung pada kematian. Dr. Robert di persalahkan oleh penduduk sekitar akibat hasutan dukun.  Dr. Robert pun hampir putus asa untuk tidak mau menolong penduduk, terutama yang sudah berobat pada dukun. Meski Sisca selalu memberikan support, namun Robert yang tidak mau dipersalahkan kedua kali tidak mau ambil resiko untuk menolong warga yang telah berobat pada dukun terlebih dahulu.

Sisca sendiri akhirnya harus menemui ajal akibat penyakit yang tidak jelas dideritanya. Wargapun ikut kehilangan oleh kepergian Sisca. Pasca kepergian Sisca, Robert memilih untuk tinggal di Surabaya karena ketidakpercayaan warga padanya.

Hingga suatu ketika terjadi wabah yang melanda desa. Banyak sekali yang meninggal termasuk nenek Ani. Meski awalnya menolak, namun panggilan hati dr. Robertlah yang akhirnya membawanya kembali ke desa tersebut. Robert juga berhasil menyembuhkan penyakit seorang dukun yang selama ini membencinya.

Di akhir cerita dokter dan dukun akhirnya berbaikan.

***

Ketika dia pergi mengambil setting di dataran tinggi suku tengger dimana dengan kudalah mereka melakukan perjalanan. Tidak ada mobil, tidak pake motor. Suasana alam yang cukup membuat penonton terbuai akan keindahan alami desa.

Friday, May 13, 2011

IRA WIBOWO DALAM FILM MALIOBORO DI WAKTU MALAM




JUDUL FILM        : MALIOBORO DI WAKTU MALAM

SUTRADARA       : CHAERUL UMAM

PRODUKSI           : PT. REMBULAN SEMESTA FILM & PPFN

SKENARIO           : MARSELLI

PRODUSER          :  SORAYA PERUCHA, NURFINA SYAHRIL DJOHAN

TAHUN                                 : 1989

JENIS                     : FILM DRAMA

PEMAIN               : NUNGKI KUSUMASTUTI, IRA WIBOWO, SIGID HARDADI, SEGUDANG ARTIS PARFI JOGYA

SINOPSIS :  

Slamet (Sigid Hendardi) adalah seorang wartawan Harian Bumi di kota Yogyakarta. Ia tinggal kumpul serumah dengan teman wanitanya Wulan (Nungki Kusumastuti). Slamet adalah seorang lelaki yang tidak berani menikah namun menjalin hubungan dalam satu atap tanpa adanya ikatan pernikahan. Wulan adalah seorang pelukis yang berambisi untuk membuka pameran lukisan. Kehidupan kedua insan berlainan jenis di Jogya ini tinggal dalam satu rumah kontrakan.

Suatu malam, Slamet berkenalan dengan seorang wanita bernama Dona (Ira Wibowo) di Jalan Malioboro ketika sedang makan gudeg lesehan. Melihat gelagat yang tidak biasa, Slamet menebak kalau Dona adalah orang baru di Jogya. Dona adalah keturunan Manado yang besar di Jakarta, dan ketika usia 26 tahun pergi keJogya untuk mencari cinta. Perkenalan Dona dan Slamet di Malioboro membuat keduanya sering janjian untuk ketemu. Singkat cerita, Slamet kesengsem dengan Dona tanpa memperhatikan kalau dirinya sebenarnya memiliki pasangan, Wulan. Sementara Dona sendiri sebenarnya pernah bertunangan dengan Raymond namun gagal ke pernikahan setelah Dona merasa kalau dirinya butuh cinta

Dona dan Slamet sering pergi berdua termasuk menjadi tukang foto di kampung Slamet mereka lakukan berdua tanpa sepengetahuan Wulan. Hingga suatu ketika Wulan secara tidak sengaja melihat Slamet dan Dona bergandengan tangan di keramaian. Mengetahui Slamet bertindak serong, tidak membuat Wulan marah-marah namun ia pendam sendiri dalam hati.

****

Keinginan Wulan untuk mengadakan pameran lukisan pun akhirnya tercapai.  Wulan mengadakan pameran lukisannya, banyak lukisan-lukisan yang terjual. Salah satu pengunjung yang membeli adalah Dona. Namun lukisan tidak bisa langsung di bawa. Sehingga Dona mengambilnya di rumah Wulan. Di rumah Wulan, Dona menemukan foto lukisan Wulan tentang Slamet. Namun sayang lukisan Slamet sebagai pengemis tidak di jual oleh Wulan. Melalui pembicaraan berdua akhirnya Dona tahu siapa sebenarnya Slamet. Ia tidak lebih dari playboy kampungan.

Akhirnya ketika Dona dan Slamet bertemu keduanya terlibat perdebatan panjang. Dona meninggalkan Slamet, dan Slamet pun mengejar. Namun malang, ia akhirnya kecelakaan di Jalan Malioboro. Dona membawanya kerumah sakit. Selepas dari rumah sakit, Slamet kebingungan karena harus pulang kerumah siapa.

****

Malioboro di waktu malam merupakan film yang cukup komplek, karena sedikit menyelami budaya keraton seperti kirab kereta keraton, dan juga tarian yang di bawakan oleh Wulan.