SINETRON DEWI SARTIKA, Perjalanan Derita Pejuang Wanita(Sinetron Lawas). Belum rampung penayangan sinetron Panglima Sudirma, TPI kembali mempersiapkan sinetron sejarah perjuangan Dewi Sartika, produksi PT. Setia Lencana Film, garapan Agus Elias sebanyak 13 episode dari 26 episode yang direncanakan. Penayangannya sekitar awal Mei 1994 mendatang.
Sinetron yang dibintangi Nizar Zulmi, Yanti Kosasih serta puluhan pemain baru ramuan dari Bandung sekitarnya ini, menelan biaya produksi diatas 500juta rupiah, dengan pengambilan lokasi, Bandung, Sumedang sera alam jawa Barat sekitarnya.
Sesuai sejarah, sinetron Dewi Sartika bersetting tahun 1893 hingga 1947. Gaya tempo doeloe dominan dalam setiap pengambilan angel, baik kostum maupun intonasi vokal. Maka jangan heran, bila menyaksikan sinetron yang ditulis oleh Yan Daryono ini, kita merasa seperti menyaksikan dunia masa lampau yang penuh aturan norma dan pergolakan.
"Ini sejarah, nggak sembarangan menggarapnya. Harus selektif dan sesuai dengan jamannya. Kalau nggak gitu, bisa-bisa dituduh sebagai biang pengaburan sejarah. Tema-temanya sesuai dengan buku-buku yang terdapat dalam pelajaran di lembaga pendidikan, " kata Agus Elias. Karena itu pula Agus tetap bersikukuh pada prinsipnya, hingga sempat menimbulkan permasalahan dilapangan dengan beberapa rekannya. "Menggarap tema sejarah dengan yagn bukan itu berbeda. Kita tidak bisa bersikap refleks terhadap situasi, tapi memang harus menuangkan total apa yang tergambar dalam perjalanan historis itu. Kalau hasil karangan fiksi, kita kan bisa kompromi dan sedikit semau gue menggarapnya. Namun dalam serial Dewi Sartika ini, nggak bisa. Makanya saya hati-hati sekali. Biar ditendang dari posisi sutradara, saya tetap pada prinsip, " lanjut Agus Elias .
Menurut sebuah sumber, untuk episode 14 hingga 26 sinetron Dewi Sartika akan disutradarai Dody Surya Putra.
Sinetron Dewi Sartika, lengkap memvisualisasikan potret perjalanan perjuangan pribadi dari keluarga putri R. Rangga Somanegara dengan R.A Rajapermas ini. Kendati banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak, Dewi Sartika tak bergeming dari niatnya yang ingin mendirikan sebuah sekolah yang khusus untuk remaja putri.
Setelah beberapa lama menjadi pendidik rajutan dan sulaman, Dewi Sartika mendirikan sebuah sekolah di Paseban Kulon tanggal 16 Januari 1904 bernama SAKOLA ISTRI atas bantuan Bupati R.A Martanegara.
Perjalanan perjuangan Dewi Sartika tidak mulus, Selain tetap mendapat protes dan dimusuhi oleh bangsanya sendiri, dia juga harus menghadapi persoalan pribadi yang pelik, yaitu dilamar oleh Pangeran Jayadiningrat, penguasa Kesultanan Banten.
Dewi Sartika sendiri belum berniat untuk berumah tangga, hingga mengecewakan Pangeran.
Namun saat bertemu dengan Raden Agah pada sebuah pesta, hati Dewi Sartika terpanah asmara. Apalagi Raden Agah adalah seorang guru Eerste Klasse School di Karang Pamulung. Kian menggebu-gebu motivasi Dewi Sartika untuk mewujudkan obsesinya. Kendati hubungna itu ditentang keras oleh R.A Rajapemas, Ibu Dewi Sartika, namun dua sejoli yang sudah satu cita-cita itu tetap melangsungkan pernikahan tahun 1905.
Dewi Sartika mendapat bantuan dan masukan dari suaminya, tentang perbaikan kurikulum di sekolahnya. Perasaan Kebangsaan yang tumbuh dalam diri Dewi Sartika, mendorong wanita ini menjadi sosok yang aktif dan menonjol. Dia sosok yang vokal dan progressif. Sementara dilain pihak, pra wanita dari kalangan bangsawan yang notabene adalah juga sanak familinya, masih saja menentang dan mengucilkannya.
Dalam sinetron ini juga digambarkan bagaimana penderitaan Dewi Sartika ketika masa pendudukan Jepang. Dewi Sartika terpaksa mengungsi naik pedati dan tandu karena sakit, berpuluh-puluh kilometer kedalam Cineam, Tasikmalaya sampai akhirnya, tanggal 11 September 1947, Dewi Sartika meninggal ditanah pengungsian Cineam, Jawa Barat. ~MF : 202/168/TH X, 26 Maret - 8 April 1994
