SUTING SINETRON : MAHKOTA MAYANGKARA IV, MAIN DI HUTAN LINDUNG(berita lawas). Bertepatan waktu itu hari Minggu pagi, suasana diseputar lokasi suting sinetron seri Mahkota Mayangkara IV di hutan lindung IPB Bogor cukup ramai banyak dikunjungi orang terutama yang sedang berlibur menikmati wisata alam. Meski pagi hari itu udara masih terasa sejuk, tapi cuaca cukup cerah dan tak disi-siakan oleh sutradara Liliek Sudjio untuk memulai pengambilang gambar/suting.
Liliek rupanya memang telah hafal betul dengan sikon seperti ini. Sebab ia termasuk sutradara kawakan yang telah biasa dan sering menangani film-film laga dengan lokasi suting semacam ini, diantaranya film Si Buta Dari Goa Hantu produksi 70an. Sehingga ia dapat memastikan diri kapan saat terbaik suting bisa dimulai. Jadwal waktu suting pun tak meleset dari rencana semula. "Okey start, ucap Liliek memberi aba-aba mulai suting.
Orang-orang yang semula bertujuan berlibur menikmati wisata alam sekitar itu, begitu mereka melihat ada suting langsung saja datang berbondong-bondong menghampiri lokasi suting, bercampur baur dengan masyarakat setempat yagn sejak tadi telah melihat persiapan dan jalannya suting. Untung sejak dini petugas keamanan telah bersiap-siap untuk menangkal kemungkinan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan bersama. meski petugas keamanan cukup dibikin repot oleh sebagian massa yang bandel, tapi setelah mendapat bantuan dari Polsek setempat akhirnya massa bisa ditertibkan. Sehingga suting berjalan lancar sebagaimana mestinya.
Sejak pukul 7.30 WIB pagi kru, pemain, sutradara telah berada di lokasi suting. Meski wajah mereka kelihatan rada loyo, sebab tenaga dan pikiran mereka telah terkuras selama beberapa hari, yang tak jarang suting usai hingga menjelang malam dan pagi harinya berlanjut kembali, begitupun seterusnya. Tapi berkat dukunan masyarakat yang menonton suting begitu luber gairah kerjapun timbul kembali.
"Selama delapan hari berada di lokasi suting meski saya capek, tapi saya senagn sebab saya seperti berada dilingkungan keluarga sendiri. Bisa bergaul dengan masyarakat setempat dan bercanda ria serta ndongeng ngalor ngidul bersama kru sewaktu break, sehingga terasa lebih familiar, " ucap Ken Kendro (24) tokoh Trisura, calon pengantin pria yang bakal bertemu denan calon pengantin wanita Praharsini (Cut Keke) dalam sinetron ini.
Suting Mahkota Mayangkara IV ini memang berjalan mulai pagi hari hingga menjelang malam. Setelah break pada siang hari, makan minum diatas tikar yang digelar di rumput hijau dengan hidangan prasmanan. Malam hari para pemain dan sebagian kru yang bisa meninggalkan tempat harus pulang ke kandang rumah masing-masing. Sebab tak tersedianya tempat penginapan khusus. Kemudian pagi hari mereka harus balik lagi ke lokasi suting. Jadi selama delapan hari mereka yang kebetulan tinggal di Jakarta, harus bolak balik Jakarta - Bogor.
Kondisi seperti ini konon sering dan sah saja berlaku dalam produksi film nasional. Tak jarang pula para kru dibayar dengan honor ala kadarnya. Apalagi dalam kondisi perfilman lagi lesu darah, kru hanya bisa manggut-manggut. "Yang penting masih ada pekerjaan," celetuk salah seorang kru yang tak bersedia disebutkan namanya.
Adegan-adegan fighting yang terjadi dalam film ini memang banyak menggunakan sling, dengan jarak satu meter sekalipun sling itu di film tidak kelihatan. "Teorinya sederhana saja kok," ucap sutradara Liliek Sudjio yang memang ia telah berulang kali membuat film dengan adegan-adegan berbahaya ini.
Sebab itu dalam sinetron ini ia menampilkan pemain film laga seperti Advent Bangun, Yurike Prastica, Fitria Anwar, August Melasz, Edy Chaniago, Yarif, ditambah pemain baru Ken Kendro, Cut Keke dan lain-lain. Seperti sewaktu suting mengambil di lokasi Kebon Binatang Ragunan Jakarta. Meski selama seminggu suting berjalan di seputar kandang gajah, dan terdengar berisik kicau burung-burung bernyanyi, toh suting tetap jalan terus.
Suara memang tidak lagnsung diambil tapi akan dilakukan dubbing di sanggar Prativi. Saya akan berikan special effect untuk adegan-adegan tertentu, " ucap Liliek Sudjio yang pernah belajar tentang pembuatan Effect di AMerika Serikat ini.
Sinetron Seri Mahkota Mayangkaa di produksi PT. Menara Gading Citra yang di produksi oleh Budi Sutrisno ini, boleh dibilang sebagai film kolosal. Sebab di dukung oleh ratusan figuran dan menelan biaya ratusan juta rupiah. Dalam pembuatan film ini melibatkan kamerawan kawakan Harry Susanto dan lighting Heru. jadi merupakan rekanan kerja yang kompak antara sutradara dan kru serta pemain, sebab mereka sering bertemu di lapangan. ~MF 168/135/TH IX 12-25 Desember 1992
