"BERGAIRAH DI PUNCAK", MISTERI PEMBUNUHAN DI KEBUN TEH (film lawas). Sepuluh tahun lalu terjadi peristiwa pembunuhan yang nyaris tak diketahui orang, kecuali oleh para pelakunya sendiri. Lokasinya memang disebuah vila terpencil di tengah perkebunan teh di kawasan Puncak.
Namun kini roh Reny, sang korban muncul dihadapan kekasihnya, Revan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Dulu, saat Revan masih mudah belia, sebagai seorang insinyur baru ia diterima bekerja di Perkebunan Teh milik Pak Sungkono. Sayang, Pak Sungkono tak dikaruniai usia panjang. Menjelang meninggal beliau menitipkan perkebunan dan putrinya, Reny pada sahabatnya, Pak Bono. Padahal Pak Bono punya rencana untuk mengangkangi seantero perkebunan. Apalagi ia mempunyai dua anak, Guntur dan Selvy.
Guntur Yang urakan dan gemar mabuk-mabukan mengincar Reny, kendati mengetahui Reny sudah menjalin percintaan dengan Revan. Sedangkan Selvy mati-matian berusaha merebut cinta Revan. Tapi penolakan cinta Revan membuat Selvy sakit hati.
Diam-diam Selvy memperalat Mandor Degol untuk melampiaskan dendamnya. Mandor muda yang tergila-gila pada Selvy ini, bersedia melakukan apa saja demi untuk memuaskan si gadis. Berbekal sepucuk pistol, ia menghabisi Reny. Bahkan Guntur yang mendadak muncul, ikut menjadi korban keganasannya.
Pak Bono merahasiakan kasus pembunuhan ini dengan dalih, Reny minggat bersama Guntur. Revan tak berdaya mencari kemana menghilangnya mereka, hingga akhirnya bisa di rayu Selvy sampai bersedia memperistrinya.
Nyaris rahasia ini tertutup untuk selamanya, kalau saja roh Reny tak muncul dihadapan Revan di vila yang terbengkalai. Untuk membongkar kejahatan tersebut, Revan berhasil menemukan Pak Amat, saksi hidup satu-satunya. Roh Reny bisa tenang dialam baka, setelah persekongkolan jahat Selvy dan Degol terbuka, dan mereka mendapat ganjaran yang setimpal.
BERGAIRAH DI PUNCAK merupakan produksi PT. Rapi Film yang diangkat dari cerita skenario tulisan Iwan Ibon Baihaki oleh sutradara muda Steady Rimba. Dua bintang panas Windy Chindyana dan Rieka Herlina memperebutkan Ibra Azhari. Diperkuat oleh Monang Simbara (Abang dari Cok Simbara), Aldo dan sutradaranya sendiri Steady Rimba. Bergairah di Puncak tayang di Jakarta mulai 1 Agustus 1997.

No comments:
Post a Comment