Showing posts with label Garin Nugroho. Show all posts
Showing posts with label Garin Nugroho. Show all posts

Thursday, August 6, 2026

BULAN TERTUSUK ILALANG, RAIH PENGHARGAAN DI BERLIN

 


BULAN TERTUSUK ILALANG, RAIH PENGHARGAAN DI BERLIN (berita lawas).Film Bulan Tertusuk Ilalang karya Ketiga Sutradara Garin Nugroho berhasil menyabet dua penghargaan dari juri Festival Film Berlin bidang Federation International de La Presse Cinematographique (FIBPRESCI). Dua penghargaan sekaligus itu diberikan untuk kritik film Internasional (Internationale Film Critics Award) dan Penghargaan Netpac (The Network for the Promotion of Asian Cinema). 

Pada Festival yang berlangsung selama 12 hari (15 - 26 Februari 1996) itu, Anne De Gasperi (Prancis), Ktua FIPRESCI menilai film Garin "sangat efektif mengendalikan perhatian penonton". Film yang dalam bahasa Inggris berjudul "And The Moon Dance" itu menurut penilaian tim juri, mampu membawa penonton dan pada dua dunia yang berbeda. Yakni kemesraan dan emosi yang diwarnai dengan kehidupan ritual. 

Untuk klasifikasi film kritik, bersama Bulan Tertusuk Ilalang ada film lain yang memperoleh penghargaan serupa. Film tersebut Tai Yang You Er karya sutradara asal Taiwan, Yim HO. Film lainnya Chechun Cher Che Chaf garapan sutradara Prancis, Cedricc Klapisch. 

Tim Juri penghargaan Netpac yang diketuai Ken Okubo dari Jepang menyatakan, Film Garin layak memperoleh penghargaan Netpac karena bertema cerminan identitas diri yang ditantang modernisasi, disamping penuh dengan nilai-nilai perubaha. Pada Festival Des Troix Continent, Festival Tiga Benua yang ke 17 di Nantes, Prancis, penghujung tahun lalu, film yang menghabiskan dana deri Dewan Film Nasional (DFN) kini Badan Pertimbangan Film Nasional (BPFN) - sekitar Rp. 600juta itu, juga memperoleh penghargaan juri. (Juri Award).

Bulan Tertusuk Ilalang maupun Cemeng (2005) atau The Last Primadona (Nano Riantiarno) sejak mula, selain sebagai film tuan rumah dalam penyelenggaraan Festival Film Asia Pasifik (FFAP) ke 40, diharapkan juga sebagai film lokomotof dan mampu mengharumkan nama Indonesia di forum Internasional. Kendati dalam FFAP itu , Bulan.... diunggulkan untuk film, aktor, artistik, kamera dan tata suara terbaik, namun akhirnya gagal. Pun ketika diikutsertakan dalam Festival Film Tokyo, bulan Oktober, "Setiap festival mempunyai karakter yang berbed. Kendati gagal dalam FFAP, saya tidak kecewa, "ungkapnya.

Menurut Sutradara kelahiran Yogyakarta itu, karya-karyanya baik Cinta Dalam Sepotong Roti, Surat untuk Bidadari maupun Bulan Tertusuk Ilalang diharapkan menjadi ~~254/220/XII/9-22 Maret 1996

Thursday, June 5, 2008

FILM DAUN DIATAS BANTAL



Semakin semrawutnya kehidupan jaman sekarang mengingatkan pada film Daun Diatas Bantal garapan Sutradara Garin Nugroho. Film produksi 1996 ini dibintangi oleh Christine Hakim yang sukses memerankan tokoh Asih. Dengan setting Yogyakarta film ini menarik untuk di tonton dan dicermati.

Film ini berkisah tentang kerasnya kehidupan anak jalanan dan juga penggambaran secara visual tentang masyarakat sebenarnya. Kehidupan masyarakat kecil yang tinggal seadanya di perkampungan yang kumuh. Dengan dibintangi oleh 3 anak jalanan yang memang bukan aktor akan tetapi pelaku sesungguhnya anak jalanan itu sendiri menyebabkan dialog yang di tuturkan oleh ketiganya sangat alami dan memang itulah dialog-dialog yang umum di lakukan oleh anak jalanan. Ngeri memang memang membayangkan kehidupan mereka yang keras.

Adalah Asih (Christine Hakim) seorang penjual batik keliling yang menjual barang dagangannya dengan mengkreditkan lagi ke orang-orang sekitarnya. Cara menawarkannya pun sangat khas layaknya tukang kredit yang menawarkan ke mbok-mbok tua dan hubungannya dengan ketiga anak jalanan Heru (diperankan heru 15 tahun), Sugeng dan Kancil ditengah kehidupan jalanan yang pahit, lepas, indah dan juga brutal akan tetapi penuh dengan kerinduan cinta dibalik kehidupannya yang gelap. Hubungan ketiganya dengan Asih sangat dekat meski kerap beradu mulut. Asih meski hanya seorang penjual batik keliling akan tetapi agaknya kehidupan yang demikian dengan komplek yang kumuh menyebabkan kehidupan Asih tidak jauh dari wanita yang bisa dibayar.

Satu persatu anak-anak jalanan tersebut mati mengenaskan. Adalah kancil yang mati diatas Kereta api yang melewati terowongan ketika kereta berjalan dan ia sedang berdiri diatas kereta. Kematian Kancil menyebabkan Heru sangat kehilangan sehingga tangannya berlumuran darah. Melihat Heru terkena darah, Asih langsung menuduh heru kalo ia habis maling lagi. Ini tuduhan yang sudah menjadi kebiasaan asih. Matinya Kancil menyebabkan rasa kehilangan bagi anak sekolah yang sering di seberangkan oleh Kancil.
Menyusul kemudian Heru yang mati karena menjadi korban asuransi. Saat itu isu asuransi adalah sedang santer, dan anak jalanan banyak menjadi korban setelah diasuransikan lantas di bunuh. dan yang mengasuransikan akan mendapat keuntungan dari kematian tersebut. Modus yang sangat mengerikan.

Diakhir kisah adalah kematian anak jalanan yang tidak dimakamkan karena alasan tidak punya KTP dan sanak keluarga. Sehingga jasadnya dibiarkan sampai pada akhirnya TVRI menayangkan berita tersebut.

Film ini juga menampilkan akting Sarah Azhari yang memang dari dulu sudah seksi.
Sementara itu rumah tinggal Asih dan komunitasnya akhirnya ditutup dan diganti dengan bangunan baru. Ini sih kisah klasik, dimana-mana juga begitu. Siapa yang berkuasa dia yang menang.

Daun Diatas Bantal berhasil memperoleh Best Picture dan Best Actress Pada Asia Pasific Film Festival 1998. Uncertain Regard Festival Film Cannes 1998, Special Jury Price Tokyo International Film Festival.

Film ini dibintangi oleh :
Christine Hakim
Kancil
Sugeng
Heru
Sarah Azhari

Sutradara : Garin Nugroho