Showing posts with label Herman Permana. Show all posts
Showing posts with label Herman Permana. Show all posts

Saturday, June 20, 2026

MENGENAL HERMAN PERMANA, SALAH SATU STUNTMAN, TUNGKAI PAHANYA COPOT, KALAU MAU MATI YA MATILAH

 


MENGENAL HERMAN PERMANA, SALAH SATU STUNTMAN, TUNGKAI PAHANYA COPOT, KALAU MAU MATI YA MATILAH (berita lawas). Nonton film "Depan Bisa Belakang Bisa"? Di film ini ada adegan Dono Warkop jatuh dan tergantung di kabel tilpun dari atas gedung bertingkat. Nah bayangkan adegan yang cukup berbahaya untuk melompat dan jatuh dari hotel Kartika Candra itu, sebenarnya bukan Dono sendiri. 

Peran itu diganti oleh Herman Permana, Stunt man-nya. Sebagai stunt man alias peran pengganti, Herman siap melakukan adegan berbahaya apa saja. Tak hanya jatuh dari hotel bertingkat saja yang pernah dilakukannya. 

Dari mulai tabrakan, membalikan, menerbangkan mobil atau motor, sampai ditabrak kendaraan dengan laju tinggi pernah dilakukannnya. Memang, pria yang lahir di Jakarta, 6 Maret 1954 ini, selain seorang peran pengganti dan pemain film ia juga jago balap. Prestasi yang pernah diraihnya, sebagai juara Mobil (1978), Lomba Motocross (1977) dan Balap Motor (1980) untuk tingkat Nasional di Jakarta. 

Tahun 1972, merupakan langkah pertama karir Herman di dunia film. Bermula sebagai figuran. Setelah melamar kesana kemari barulah ia bisa main dalam film "Cintaku Jauh Di Pulau", Sudah banyak film yang ikut dibintangi baik sebagai figuran, peran pembantu ataupun sebagai peran pengganti. Herman sendiri sudah lupa untuk menyebut filmmografinya. 

Ia hanya bisa menyebutkan film yang masih ingat seperti "Montir-montir cantik", Damar Wulan, Ken Arok, Jaka Geledek, Meriam Si Jagur, Terjebak Penari Erotis, Tergoda bibir kenikmatan dan  tahun 1988 Pembalasan Ratu Laus selatan. Pertama kali jadi peran pengganti dalam film "Rosita" dimana ia harus menerbangkan motor melompati mobil, ditahun 1978.

"Dunia film memang keinginan saya sejak dulu. Jadi stunt man ini, cuma sekedar pelepasan dari hobi balap motor. Belajarnya sendiri lewat buku-buku dan juga sama Eddy Hansudi (stuntman kawakan Indonesia). Tapi sekarang saya sendiri. Perlengkapan untuk ini, saya minta kirim pada adik saya yang belajar di Amerika", papar anak ke 5 dari 10 bersaudara ini. 

Jadi stuntman bukan hanya keberanian saja yang jadi andalan. Perhitungan untuk melakukan, melihat kondisi kendaraan, bila menggunakan kendaraan disamping perlengkapan penyelamat. Perhitungan kecepatanpun mutlak. Karena tak mungkin misal menjalankan kendaraan di bawah 50 km perjam untuk melompati kendaraan. Lebih tinggi kecepatan lebih tinggi terbangnya. Juga untuk membalikan kendaraan, dan meluncurkan kendaraan dengan keadaan terbalik. Paling tidak adegan yang dilakukan hanya sekali itu, harus benar-benar bisa memuaskan sutradara atau produser. 

Jadi benar-benar harus berani untuk melakukannya. Lebih nekad lebih hebat, produser pun tak kecewa kan? Sebelum sutradara bilang 'cut' apapun yang terjadi tetap harus ditahan," kata Herman yang menebus keberaniannya ini dengan beberapa cidera di tubuhnya. Akibat keberaniannya ini juga, tak jarang herman Patah tulang. Tulang rusuknya pernah patah dan menusuk jantung. Sementara pada film terakhirnya, dimana ia harus tabrak kendaraan yang meluncur 70 km perjam, tungkal pahanya copot dari persendiannya. Tetapi walaupun demikian Herman akan terus main film. 

"Keluarga saya biasa saja. Mungkin mereka tahu saya suka balap motor. Jadi resiko tuh, dimana saja bisa menimpa manusia. Biar kata itu kepleset kulit pisang , jika takdir harus mati ya , mati!. Ya, mungkin hanya istri saya saja sekarang yang sedikit nggak setuju karir saya di stunt man ini, " kata Herman yang telah beristri dan mengaku asuransi tubuhnya diurus produser ini. 

"Saya akan tetap berkarir di film, walau terus terang saja film tidak menjamin kehidupan keluarganya. Disamping film saya memang bisnis lain, menyewakan sound system dan alat-alat musik juga dirumah, " kata Herman yang juga seorang drummer di group musik Mekanik Band ini. 

"Sebenarnya saya cenderung berhenti untuk jadi stunt man. Masalahnya saya kepingin memberikan kesempatan pada para peran pengganti baru. Mungkin mereka juga punya keberanian yang lebih dari saya. Tapi film tetap dunia saya, " kata Herman yang lulusan AKademi Ilmu Pelayaran tapi tak mau kerja di kapal ini. ~sumber MF 057/25 tahun V, 3 - 16 Sept 1988