SEPUTIH KASIH SEMERAH LUKA, BENTUK LAIN EKSPLOITASI KAUM HAWA, (Film Lawas), Mengeksploitasi kaum hawa dalam film, memang tak selalu harus dengan menuntut mereka memamerkan paha, buah dada atau lekuk bentuk tubuhnya. Wim Umboh, sutradara ini telah mencontohkan eksploitasi itu dalam bentuk lain. Bukan terhadap tubuh seorang wanita, tapi terhadap nasib dan kehidupannya. Setidaknya itulah yang dialami Ida Iasha (Marissa) dalam film Wim Umboh "Seputih Kasih Semerah Luka".
Wim, tanpa tedeng aling-aling telah mengeksploitir Ida Iasha hingga menjadi wanita yang sangat menderita. Dinikahi seorang pria impoten meskipun kaya, lalu di perkosa bekas pacarnya sendiri, kemudin dijual oleh sang pacar pada pria hidung belang, lalu kehilangan anak tersayang, lalu gila , lalu membunuh, lalu diadili dan akhirnya masuk rumah sakit jiwa.
Selalu tampil sebagai wanita yang menderita dalam film-filmnya, ditangan Wim, Ida Iasha ternyata dibuat lebih menderita lagi. Lebih mengenaskan, lebih tersiksa. Wim Umboh kali ini memang tidak tanggung-tanggung dalam mendedelduelkan nasib wanita. Marissa contohnya, wanita cantik itu ditangan Wim, telah jadi secarik gombal yang sama sekali tak punya harga. Wim, lewat filmnya ini, kayaknya ingin mengatakan bahwa kecantikan tak selalu membuat pemiliknya berbahagia, Marissa contohnya.
Diangkat dari novel karya Nina Pane "Annisa". Seputih Kasih Semerah Luka, bercerita tentang seorang wanita bernama Marissa yang dinikahi Eleke (Ikang Fawzi). Perkawinan itu tidak berjalan harmonis karena Eleke ternyata impoten akibat kecelakaan mobil. Kebutuhan biologis yang tak terpenuhi itu membuat Marissa mejadi pemurung dan terseret pada kehidupan yang tak bergairah. Ia kemudian bergaul dengan wanita-wanita penghibur kelas atas dan mengusir kegelisahannya dengan keluar masuk klab malam. Dampai kemudian ia bertemu dengan Dandun (Rico Tampatty), bekas pacar lamanya.
Dandun kemudian memperkosanya. Lalu dengan kedok cinta, Dandun yang sebenarnya ingin balas sakit hatinya pada Marissa, menggerogoti wanita itu. Malah tega-teganya Dandun menjual Marissa pada pria hidung belang. Dan, setelah semua itu terpenuhi Marissa, Dandun pun denga begitu saja mencampakkannya. Sedang Eleke, suaminya, tak memiliki daya apa-apa ketika sang ibu memintanya menceraikan Marissa karena memergoki mantunya sedang digagahi Dandun.
Marissa yang terusir, lalu pergi dari rumah Eleke hanya dengan membawa tas butut. Anaknya sendiri, yang sebenarnya bukan benih Eleke, tidak dibolehkan sang ibu dibawa. Lengkaplah kemudian pendieritaan marissa. Apalagi setelah dia compang camping dan gila, Wim mencampakkannya ke Rumah Sakit Jiwa.
Menyaksikan "Seputih Kasih Semerah Luka" kita melihat betapa sadisnya Wim mencabik-cabik hidup seorang wanita. Wim kali ini memang tidak mengeksploitasi kaum hawa, dengan memamerkan paha atau buah dada mereka. Tapi tindakan Wim yang terkesan begitu dingin dalam menentukan nasib Marissa, mengesankan sekali betapa Wim sedang mendendam pada kenyataan hidup yagn dilihatnya. Akibatnya, wanita ditangan Wim kali ini menjadi begitu tragis. Pada gilirannya kemudian, tanpa bisa ditampik, Wim telah hadir sebagai seorang pemotret kenyataan yang begitu sadis.
Hidup Marissa adalah hidup seorang wanita cantik yagn tragis. Ini memang kenyataan. Dan Wim ingin mengungkit tragedi itu, Wim ingin mengangkat nasib malang yang banyak dialami para wanita cantik itu. Jelas, ini upaya Wim yang cukup menarik. Meskipun dalam upaya tersebut, Wim begitu mengeksploitasi kemalangan tersebut sehingga berkesan sekali ingin menguras air mata penontonnya.
Namun begitu sebagai film, "Seputih Kasih Semerah Luka" cukup menarik untuk dilihat . Bukan saja karena Wim menampilkan kemalangan seorang wanita secara habis-habisan, tapi juga karena Wim telah memilih kerabat kerjanya dengan tepat. kamera ditangan Akin, misalnya, berhasil menampilkan nuansa yang diinginkan Wim. Sementara musik yang ditangani Billy J Budiharjo juga cukup memberi arti bagi adegan yang berlangsung.
Biar begitu, bukan lantas Wim tanpa kelemahan. Setidaknya dalam hal editing, Wim terkesan amat tergesa-gesa. Begitu juga dalam menyusun adegan, Wim terlihat sangat mengabaikan logika. Lihat saja, ketika Dandun ditemui Marisa di rumah kontrakan lelaki itu, tiba-tiba saja muncul tiga orang ria yang menagih hutang pada Dandun dan menghajarnya hingga Marissa terpaksa membayar hutang tersebut. Secara keseluruhan adegan itu memang bisa diterima. Tapi karena adegan tersebut hadir tanpa gambaran awal, terkesan sekali jadi mengada-ada. Bukankah tanpa adegan itupun, penonton sudah tahu Dandun itu bejat? Setidaknya lewat dialog para pelakunya. Begitupun kita patut gembira dalam konsisi fisik masih mampu berbuat. Dan itu cukup membahagiakan, meskipun Wim tidak menghadirkan bal-hal yang baru.~Mf. 063/31/Tahun V, 26 Nov - 9 Des 1988.









